Otak Remaja

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa remaja kurang lebih dimulai dari usia 11 – 20 tahun (Papalia, Olds, & Feldman, 2007). Saat memasuki masa remaja, individu sudah menguasai tugas perkembangan seperti kontrol motorik halus dan kasar, bahasa, reasoning, dan kemampuan berpikir abstrak. Pada masa ini, remaja akan menghadapi tantangan dan perubahan yang lebih bervariasi. Pubertas, perubahan emosional, dan perubahan psikologis merupakan persiapan individu memasuki masa dewasa. Dapat dikatakan masa remaja merupakan kesempatan untuk mengembangkan otak yang lebih advanced, namun dapat juga dikatakan sebagai masa yang rentan, terlebih jika terpapar oleh neurotoxins seperti rokok, alkohol, dan narkoba (Chamberlain, n.d.).

Interaksi yang kompleks antara perubahan hormonal, kemampuan kognitif, dan dorongan untuk memahami diri ditandai dengan kesempatan untuk mendapatkan insight sekaligus kerentanan terhadap bahaya psikososial dan fisik. Tugas perkembangan remaja mencangkup membangun otonomi, mengembangkan hubungan dengan individu lain, menyesuaikan diri dengan tuntutan sekolah. Semua hal tersebut mengarah kepada pemisahan diri sebagai pribadi (self). Pada masa ini individu melakukan eksperimen dengan nilai moral, keterampilan membuat keputusan, dan tingkah laku sosial. Dengan kata lain, pada masa ini remaja mencari tahu mengenai dirinya dan membentuk gambaran mengenai diri mereka di masa depan. Proses ini terjadi dalam konteks sosial dan lingkungan. Mereka sering melakukan evaluasi terhadap dirinya, membandingkan dengan persepsi mereka mengenai pandangan orang lain (Brown & Prinstein, 2011).

Menurut Elkind (dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2007), pemikiran remaja cenderung immature. Ketidakdewasaan ini muncul dalam enam karakteristik :

Idealism dan criticalness

Remaja memiliki pandangan bahwa dunia mereka adalah dunia ideal. Seiring dengan perkembangan verbal reasoning dan berbagai informasi yang mereka serap, mereka meyakini bahwa mereka lebih tahu dibandingkan individu dewasa.

Argumentativeness

Remaja pada umumnya selalu mencari kesempatan untuk mencari dan menunjukkan kemampuan mereka, mereka menjadi argumentatif.

Indecisiveness

Remaja dapat memiliki berbagai alternatif di saat yang bersamaan namun belum memiliki strategi yang efektif untuk memilih. Hal ini membuat mereka kesulitan untuk memutuskan hal-hal yang sederhana.

Apparent hypocrisy

Remaja cenderung tidak dapat membedakan cara mengekspresikan idealisme dengan melakukan pengorbanan yang sesuai dengan idealismenya.

Self-consciousness

Pada masa ini remaja dapat berpikir mengenai pikiran mereka sendiri. Mereka sering berasumsi bahwa semua orang memiliki pikiran yang sama dengan dirinya, berpusat pada dirinya.

Specialness dan invulnerability

Remaja pada umumnya memiliki keyakinan bahwa dirinya spesial dan pengalaman mereka sangat unik. Menurut Elkind pola pemikiran ini merupakan bentuk egosentrisme yang mendasari tingkah laku yang berisiko dan berbahaya.

Berikut ini merupakan beberapa fakta mengenai otak remaja (Chamberlain, n.d.):

  1. Otak berkembang dari area paling belakang ke depan (bottom-up)

Brain-stem & mid-brain merupakan area yang berkembang lebih dulu. Area ini mengatur fungsi tubuh yang mendasar seperti tekanan darah dan suhu tubuh. Berikutnya area limbic dan cerebral cortex. Limbic system merupakan area utama yang mengatur emosi, sedangkan cerebral cortex bertanggung jawab atas proses reasoning, logika, dan pengambilan keputusan. Dapat dikatakan cerebral cortex merupakan CEO dari otak.

Pada saat remaja menjadi dewasa, otak mereka menjadi lebih cepat, tajam, dan terspesialisasi. Mereka mengembangkan kemampuan menalar, kapasitas untuk berpikir abstrak dan kritis, mereka memahami pertanyaan bagaimana dan mengapa, mampu menganalisis isu yang kompleks, dan mengevaluasi alternatif solusi. Walaupun remaja memiliki kapasitas untuk belajar dan mengingat informasi yang sangat berkembang, pada masa ini mereka cenderung kesulitan untuk membuat prioritas dan mengorganisasikan tugas. Karena itu remaja membutuhkan arahan dari orang dewasa saat mengembangkan keterampilan ini.

2. Transisi pada “otak emosi”

Masa remaja merupakan masa yang penuh “drama”. Yang perlu dipahami adalah pada masa ini remaja mengandalkan amygdala yang mengontrol aspek emosi. Karena itu aspek emosi dirasakan lebih intens, nyata, dan mereka cenderung menggunakan aspek emosi dalam merespon situasi. Mereka juga masih dalam proses belajar untuk mengenal dan merespon aspek emosi tersebut. Karena itu, otak remaja yang masih berkembang rentan terhadap stres. Mereka cendeng over-reaktif, meledak-ledak, dan mungkin sampai melanggar aturan. Mereka dapat marah dan menangis tanpa mengerti alasannya. Walau demikian, seiring berkembangnya cerebral cortex, proses menalar dan menilai menjadi lebih terarah.

3. Otak laki-laki vs perempuan

Laki – laki Perempuan
Lebih banyak white matter (sel penghubung)

Membantu dalam mentransfer informasi ke seluruh area otak, meningkatkan kemampuan spasial.

Lebih banyak gray matter (inti sel)

Efisien dalam memproses informasi, baik dalam kemampuan verbal

Amygdala & hypothalamus

Kedua struktur ini bertanggung jawab atas respon tubuh. Menjelaskan minat laki-laki terhadap olahraga fisik, dorongan seksual yang lebih besar, serta kebutuhan untuk lebih banyak bergerak.

Hippocampus

Bagian ini membantu proses transfer informasi ke long-term memory, dipercaya menjelaskan keterampilan sosial pada perempuan

Ritme perkembangan lebih lambat dibanding perempuan Ritme perkembangan lebih cepat

Perbedaan ini pada dasarnya berlaku umum namun tentunya dapat bervariasi pada setiap individu. Walau demikian pada dasarnya perbedaan ini ingin menjelaskan bahwa perkembangan laki-laki dan perempuan berbeda. Hal ini tentu menghasilkan tingkah laku yang berbeda pula. Penting untuk mengenali pola perubahan dan perkembangan individu, menstimulus dan mendampingi sesuai perkembangan minat dan rasa ingin tahunya secara spesifik.

4. Remaja butuh lebih banyak tidur

Perubahan kimiawi dan struktur pada otak membuat otak remaja membutuhkan lebih banyak istirahat. Terhadap hormon yang juga menstimulus individu untuk tidur pada waktu tertentu sehingga menyebabkan remaja dapat bangun sampai tengah malam dan kesulitan untuk bangun.

5. Remaja seakan-akan hidup untuk bersenang-senang dan merasakan keseruan

Pubertas dan perubahan otak pada remaja memotivasi remaja untuk mencari pengalaman dan kesenangan.

Pemahaman mengenai perkembangan otak remaja memungkinkan orangtua, guru, dan orang dewasa lainnya memahami dan mengantisipasi tingkah laku remaja yang kadang tampak tidak masuk akal, dramatis, berlebihan, emosional, dan berbahaya. Masa ini pada dasarnya merupakan transisi dan jendela menuju dunia yang lebih kompleks. Remaja membutuhkan orang dewasa yang sehat sekaligus perhatian untuk menyediakan lingkungan yang suportif. Orang dewasa dapat mengambil peran aktif untuk menyediakan lingkungan yang memberi kesempatan untuk : latihan membuat keputusan, mengembangkan keterampilan baru, mencari sensasi / petualangan yang sehat, mengambil risiko secara sehat dan berimbang, menghabiskan waktu secara berkualitas, serta memberi contoh mengenai pola hidup yang sehat.

Pola komunikasi yang asertif (terbuka, berimbang & saling mendengarkan) akan lebih efektif dibanding pola komunikasi satu arah. Akan lebih baik jika pola komunikasi ini sudah diterapkan sejak dini. Namun secara khusus untuk orangtua dengan anak remaja, ada baiknya orangtua “turun gunung”, mencoba mengenal dan memahami dinamika kehidupan mereka. Pada masa ini, semakin kita dapat menempatkan posisi secara seimbang / setara dengan mereka, mereka akan lebih merasa dihargai. Sebaliknya, memperlakukan mereka seperti lebih rendah, lebih tidak mampu atau belum mengerti dapat berpotensi menimbulkan konflik. Pada dasarnya mereka merasa sudah mulai dewasa, mampu dan kompeten untuk mengatur hidupnya. Karena itu cara menempatkan diri sebagai figur otoritas (orangtua) perlu diperhatikan secara seimbang.

 

With love,

Rini H.S.

 

REFERENSI

Brown, B.B. & Prinstein, M.J. (2011). Encyclopedia of Adolescence. London : Elsevier.

Chamberlain, L.B. (n.d.). The Amazing Adolescent Brain: What Every Educator, Youth Serving Professional, and Healthcare Provider Needs to Know. Philadelphia : Institute for Safe Families

Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman, R.D. (2007). Human Development, 10th ed. New York : McGraw-Hill.

 

 

 

 

Baca Artikel Lain

Baby Blues & Postpartum Depression

Proses kehamilan, melahirkan dan memiliki anak merupakan salah satu peristiwa yang signifikan bagi seorang perempuan. Dalam proses itu tidak hanya status yang

Mindful Parenting

Menjadi orangtua adalah salah satu peran yang paling sulit & membingungkan bagi kebanyakan orang, termasuk bagi saya sendiri. Semasa sekolah & kuliah

Intimate Partners?

Pernah dengar istilah HTS? Sekarang ini, penggunaan istilah HTS seringkali digunakan oleh banyak orang untuk menjelaskan konsep hubungan tanpa status. Apa sih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *