Baby Blues & Postpartum Depression

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Proses kehamilan, melahirkan dan memiliki anak merupakan salah satu peristiwa yang signifikan bagi seorang perempuan. Dalam proses itu tidak hanya status yang berubah, namun tubuh, kondisi psikologis, hormon pun ikut jungkir balik. Karena itu kelahiran anak disebut sebagai proses transisi yang berpotensi menimbulkan stres sekaligus membahagiakan (DeGenova, 2008). Kelahiran anak juga membawa perubahan dalam konsep diri, peran sosial, dan hubungan dengan pasangan. Belum lagi terdapat tuntutan untuk mengasuh bayi sehingga mommies harus beradaptasi dalam menyeimbangkan peran sebagai ibu dengan peran-peran lainnya, misalnya dalam pekerjaan dan mengurus rumah tangga (Boyce, 2003).

Kita masing-masing mungkin sudah mengalami atau pernah mendengar cerita & curhatan teman tentang lelahnya mengurus bayi. Zombi mode on, kalau kata orang-orang. Kurang tidur sudah jadi keluhan setiap orangtua baru. Tapi di antara cerita itu mungkin kita juga pernah mendengar orang mengatakan “Ibu itu stres tu sampai tidak mau menggendong anaknya”, “Kok begitu ya sama anak sendiri”, “Ibu itu punya anak bukannya bahagia & bersyukur malah menangis-nangis & tidak mau mengurus anaknya”………… bahkan kita juga pernah mendengar kisah ibu yang membunuh bayinya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? Memiliki anak tentunya sebuah berkat, tapi jika kita / orang di sekitar kita mengalami beberapa hal di atas, apakah iya hal itu terjadi karena mereka kurang bersyukur?

Perubahan dalam peristiwa kelahiran anak pada dasarnya begitu signifikan sehingga belum tentu dapat diantisipasi dan diatasi oleh setiap orang pasca melahirkan. Kombinasi dari perubahan hormon yang mendadak, rasa sakit yang dialami saat melahirkan, dan kehadiran bayi dapat mengubah hubungan, ide, rencana, dan ekspektasi yang sudah ada sebelumnya (Boyce, 2003). Seiring berjalannya waktu, sebagian individu dapat menyesuaikan diri, namun sebagian lagi tidak. Hal ini dapat memicu terjadinya mood disorder pasca melahirkan. Masa 3 bulan pertama pasca melahirkan adalah masa yang kritis. Pada masa ini risiko untuk mengalami gangguan psikologis meningkat. Hampir 85% perempuan mengalami mood disorder pada masa pasca melahirkan (Cohen & Nonacs, 2005). Dapat dikatakan keluhan dan rasa tidak nyaman secara psikologis pada masa ini adalah wajar.

Mood disorder pasca melahirkan terdiri dari 3 tipe : (1) postpartum blues (baby blues) dengan persentasi 50% – 85% dari populasi; (2) postpartum depression dengan persentasi 10% – 15%; (3) postpartum psychosis dengan persentasi 0,1% – 0,2%.

  • Postpartum blues ditandai dengan mood yang berubah-ubah, sering menangis, dan kecemasan. Gejala ini wajar dialami pada bulan pertama pasca melahirkan.
  • Postpartum depression ditandai dengan gejala yang lebih intens, yaitu mood depresif, kecemasan yang ekstrem, dan insomnia. Diagnosis ini ditegakkan jika gejala berlangsung dalam jangka waktu 1 sampai 12 bulan pasca melahirkan
  • Pada postpartum psychosis, muncul gejala mudah terganggu, meledak-ledak, mood depresif atau berubah-ubah, waham yang tidak realistis, dan tingkah laku yang tidak terorganisasi (Cohen & Nonacs, 2005). Diagnosis ini ditegakkan jika gejala berlangsung lebih dari 12 bulan.

Pada dasarnya ketiga jenis mood disorder pasca melahirkan ini merupakan sebuah kontinum. Postpartum blues yang tidak dapat diatasi dengan baik, dapat mengarah kepada terjadinya postpartum depression, postpartum depression yang berkelanjutan dan semakin parah akan mengarah kepada terjadinya postpartum psychosis (Cohen & Nonacs, 2005).

Postpartum Depression tergambar dalam penuturan Brooke Shields dalam bukunya My Journey through Postpartum Depression. Pada awalnya Shields merasa bahwa yang ia rasakan adalah bentuk kelelahannya, tetapi bersamaan dengan itu, timbul pula rasa panik berlebihan setiap kali sang suami menyerahkan anaknya kepadanya. Shields juga mengalami perasaan terbuang, tidak ingin bergerak atau melakukan apapun. Shields menuliskan bahwa ia tidak sekedar sedang merasa emosional atau sedih, seperti yang dikatakan orang-orang. Dalam kesempatan lain Shields mengungkapkan bahwa dirinya pernah membayangkan dirinya lompat dari jendela apartemennya (Shields, 2007).

Gejala depresi pada wanita dengan Postpartum Depression akan mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut akan berpengaruh terhadap interaksi individu dengan orang lain di sekitarnya, terutama anaknya. Salah satu interaksi yang paling mendasar antara ibu dan anak pasca melahirkan adalah menyusui. Menyusui bukanlah hal yang mudah. Beberapa wanita mengalami kesulitan dalam menyusui. Kesulitan tersebut dapat berupa rasa sakit pada puting saat menyusui, kelelahan, ASI yang kurang lancar / tidak keluar, dan kecemasan mengenai menyusui itu sendiri. Kesulitan dalam menyusui dapat meningkatkan risiko depresi.

Walau menyusui merupakan salah satu faktor risiko, menyusui juga memiliki manfaat bagi kondisi psikologis ibu. Penelitian oleh Mezzacappa dan Katkin (2002) mengungkapkan bahwa menyusui secara langsung memiliki asosiasi yang lebih besar dengan penurunan mood negatif daripada menyusui dengan botol. Menyusui dapat mengurangi stres dan memberi ketenangan pada ibu. Ketenangan yang dirasakan ibu saat menyusui sebagian besar diatur oleh hormon oxytocin (Riordan, 2005) Kegiatan menyusui juga dapat mengurangi stres yang dialami bayi dari ibu yang mengalami depresi. Dengan kata lain, menyusui dapat melindungi anak dari efek negatif dari ibu yang mengalami depresi (Kendal-Tackett, et.al., 2007).

Efek positif menyusui terhadap kesehatan mental ibu juga tergambar dalam pengalaman Brooke Shields saat menyusui. Shields mengungkapkan bahwa dirinya merasa seperti menenggak obat penenang, dan selama sesaat ia merasa nyaman saat sedang menyusui. Bagi Shields memberi ASI adalah satu-satunya hal yang membuatnya unik dalam hal perawatan anaknya, dan menyusui menciptakan sebuah keterikatan yang tidak terbantahkan, meskipun itu hanyalah sebuah hubungan fisik. Jika tidak menyusui, ia merasa akan kehilangan anaknya selamanya. Jika terus menyusui, sedikit demi sedikit ia marasa terikat kepada darah dagingnya sendiri (Shields, 2007). Dalam bukunya tergambar bahwa walau dalam keadaan depresi, Shields merasakan manfaat menyusui. Menyusui memberikan rasa nyaman dan memberi harapan bahwa dirinya dapat membangun attachment dengan anaknya sendiri.

So, setelah memahami mengenai baby blues & postpartum depression, apa yang dapat kita lakukan untuk mempersiapkan diri / mengatasi hambatan-hambatan sebagai ibu / orangtua baru?

  1. Tetaplah menyusui! Pada masa sekarang, menyusui sudah sangat digalakkan oleh Kementrian Kesehatan, institusi kesehatan, dan tenaga medis. Bahkan ibu-ibu menyusui bisa ikutan galak untuk mengkampanyekan hal ini. Tetaplah menjadi pejuang ASI walau kadang payudara mampet, sakit, dan puting lecet. Dalam hal ini menyusui secara langsung memiliki manfaat psikologis paling besar. Bagi ibu bekerja usahakan menyusui secara langsung saat memiliki kesempatan untuk bersama dengan bayinya. Tatap, peluk, dan belai anak anda selama proses tersebut.
  2. Bentuklah support system untuk diri kita sendiri. Identifikasi orang-orang & fasilitas apa saja yang mungkin akan membantu kita dalam mengasuh anak. Kerja sama antara suami-istri juga sangat perlu. Katanya two is better than one ~ ini saatnya suami dan istri mewujudkan janji manis saat menikah, jatuh bangun bersama mengurus anak. Suami perlu memberdayakan diri dan terlibat langsung dalam pengasuhan anak. Caranya pun bervariasi, mulai dari menata ulang jadwal kegiatan kita & pasangan, menyusun rencana kerja alternatif (kerja dari rumah, kerja freelance, dsb), membuat giliran jaga anak, meminta bantuan dari orangtua, pengasuh, ART, daycare, katering, dsb. Apapun yang dirasa membantu, lakukanlah.
  3. Maafkan diri anda sendiri. Menjadi orangtua adalah proses, kita berusaha, kita belajar, kadang kita melakukan kesalahan / mengalami kegagalan.titik. Let it go, yang kita rasa kurang tepat dapat kita perbaiki di hari esok. Kalau hari ini ASI belum keluar, besok kita berusaha lagi. Anak menangis, rewel, sakit, ya memang sudah wajar akan terjadi, setelah itu ia akan tertawa lagi.
  4. Seimbangkan aktivitas. Orang sering menyebutnya sebagai “me-time”, saya pribadi kurang suka menggunakan istilah itu karena terkesan dilebih-lebihkan. Me-time tidak perlu heboh, tidak perlu menghabiskan waktu seharian di spa atau liburan ala artis di Maldives. Variasikan aktivitas anda sehari-hari. Tentunya terus-menerus menghabiskan waktu bersama anak bisa membuat jenuh. Melakukan baby talk sepanjang hari juga dapat melelahkan bagi orang dewasa. Carilah aktivitas / hal-hal kecil yang menyenangkan seperti membaca (artikel ini :P), makan keluar, berendam di air hangat, cek Instagram, nonton video di Youtube atau sekedar bengong-bengong sambil makan es krim saat anak tertidur. Gunakan berbagai kesempatan untuk istirahat, luangkan waktu untuk olahraga, mengobrol dengan teman, berdiskusi dengan pasangan, memasak, atau apa pun. Intinya adalah membuat variasi aktivitas yang seimbang dalam keseharian anda.
  5. Cari bantuan. Saat semua terasa berat, rasa lelah, marah, sedih, kecewa, cemas, dsb sudah dirasa sulit diatasi sendiri, cari bantuan. Bicaralah dengan pasangan, orang terdekat, atau cari bantuan profesional seperti psikolog, konselor, dsb. Kadang diri kita sendiri yang menghalangi diri kita untuk mencari bantuan, kadang rasa malu, kadang rasa bersalah : pemikiran “saya sudah diberi anak oleh Tuhan, kok saya begini….”. Seperti yang sudah dituliskan di atas, keluhan dan rasa tidak nyaman secara psikologis pada masa ini adalah wajar. When you feel it, then it is real.

 

With love,

Rini H.S.

 

REFERENSI

Boyce, P.M. (2003). Risk Factors for Postnaal Depression : A Review and Risk Factors in Australian Populations. May 9, 2003. Department of Psychological Medicine, University of Sydney, Nepean Hospital. http://proquest.umi.com/pqdweb

Cohen, L.S. & Nonacs, R.M, (ed.). (2005). Mood and Anxiety Disorder During Pregnancy and Postpartum. Arlington : American Psychiatric Publishing, Inc.

DeGenova, M.K. (2008). Intimate Relationship, Marriage, and Families, 7th edition. New York : McGraw-Hill.

Kendal-Tackett,K., Duffy, L., Zollo, L., Geck, L., Holmes, A., Dodge, J., & Porter, J.S. (2007). A Breastfeeding-Friendly Approach to Depression in New Mothers : A Curriculum and Resource Guide for Health Care Providers. http://NHBreastfeedingTaskForce.org/

Mezzacappa,E.S. & Katkin, E.S. (2002). Breast-feeding Is Associated With Reduced Perceived Stress and Negative Mood in Mothers. Journal of Health Psychology, vol. 2, no. 2, 187-193, 2002. http://jstor.org/

Riordan, J. (2005). Breastfeeding and Human Lactation, 3rd edition. Sadbury : Jones and Bartlett Publishers, Inc.

Shields, B. (2007). My Journey through Postpartum Depression : Kisah Nyata Sang Bintang Melawan Depresi Pasca Melahirkan. Bandung : Qanita.

 

Baca Artikel Lain

Otak Remaja

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa remaja kurang lebih dimulai dari usia 11 – 20 tahun

Mindful Parenting

Menjadi orangtua adalah salah satu peran yang paling sulit & membingungkan bagi kebanyakan orang, termasuk bagi saya sendiri. Semasa sekolah & kuliah

Intimate Partners?

Pernah dengar istilah HTS? Sekarang ini, penggunaan istilah HTS seringkali digunakan oleh banyak orang untuk menjelaskan konsep hubungan tanpa status. Apa sih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *