Mindful Parenting

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Menjadi orangtua adalah salah satu peran yang paling sulit & membingungkan bagi kebanyakan orang, termasuk bagi saya sendiri. Semasa sekolah & kuliah tidak pernah ada pelajaran / kelas untuk menjadi orangtua. Tidak pernah dan tidak akan ada buku manual baku mengenai bagaimana menjadi orangtua yang baik karena pada dasarnya mengasuh anak adalah pengalaman & aktivitas yang subjektif yang dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal dari masing-masing individu (Barbieri, n.d.). Konteks pengasuhan anak di Indonesia juga cenderung luas, karena melibatkan pihak lain selain keluarga inti, seperti Kakek, Nenek, Om, Tante, Saudara, Teman, Asisten Rumah Tangga, bahkan Tetangga. Kemajuan teknologi dan informasi juga membuat situasi lebih kompleks dengan adanya forum, artikel, blog, figur di media sosial, dsb, yang kadang membuat orangtua semakin bingung.

Kesibukan dan rutinitas sebagai orangtua juga mengubah rutinitas dan gaya hidup kita sehari-hari sehingga kadang interaksi dengan anak terasa seperti “auto-pilot”, mulai dari aktivitas menyusui, memandikan, mengganti popok, menenangkan anak yang sedang menangis, belum lagi harus bekerja, membereskan rumah, memasak, membetulkan keran yang bocor, mengantar anak sekolah, pergi belanja, dll, dll… Setiap hari berlalu begitu saja tanpa terasa. Lalu pertanyaan besarnya, apakah saya sudah menjadi orangtua yang baik untuk anak saya?

Dalam kekacauan ini, muncul pendekatan Mindful Parenting. Mindfulness didasari oleh inti dari meditasi Budisme. Dengan berbagai penelitian mengenai manfaat dari meditasi, konsep mindfulness tidak lagi bicara mengenai meditasi melainkan sikap. Mindfulness berarti perhatian dari waktu ke waktu dan kesadaran akan spontanitas dari isi yang muncul tanpa usaha untuk mengubah hal tersebut. (Young, Klosko & Weishar, 2003). Tiga kualitas utama dari mindfulness adalah : (1) Kesadaran dan perhatian pada saat ini; (2) memiliki intensi dan tujuan; (3) merupakan sikap yang merefleksikan bahwa kita hadir dengan rasa ingin tahu, ketertarikan, menerima, namun non-judgmental. Secara khusus, Mindful Parenting mendorong para orangtua untuk menjaga kesadaran dan menerima kebutuhan anak melalui praktik mindfulness sehingga dapat menciptakan konteks keluarga yang lebih memuaskan dalam hubungan orangtua – anak (Duncan, Coatsworth, Greenberg, 2009).

Barbieri menuliskan bahwa kita sebagai orangtua perlu memahami diri kita sendiri dan memiliki intensi secara jelas sebelum benar-benar melakukan pengasuhan (doing of parenting) terhadap anak. Dalam hal ini tugas utama kita sebagai orangtua, pertama-tama adalah mendapatkan kekuatan untuk mengendalikan dan mempertanggungjawabkan berbagai pemikiran dan perasaan kita sendiri untuk kemudian menjadi model bagi anak-anak kita. Pribadi yang mindful memiliki keterampilan : (1) bertindak secara sadar; (2) mengobservasi; (3) deskriptif; (4) tidak reaktif; (5) dan tidak menilai benar / salah (non-judging).

Dalam mengasuh anak, kita sebagai orangtua pastinya merasa bertanggung jawab atas perkembangan anak kita, baik secara fisik, kognitif, psikologis, emosional, dan sosial. Dalam hal ini proses mendisiplinkan anak dirasa sangat penting. Kita sebagai orangtua sangat ingin membentuk anak kita menjadi pribadi yang ideal seperti yang kita bayangkan, anak yang baik, pintar, sopan, gaul, dsb. Semua keinginan kita didasari oleh nilai-nilai yang kita yakini. Walau demikian, kita perlu mengingatkan diri kita sendiri bahwa tugas utama sebagai orangtua adalah membesarkan manusia yang sehat, bahagia, mandiri dan percaya diri sehingga kelak ia dapat menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas hidupnya (Barbieri, n.d.). Mudah dikatakan namun suliiiiit dilakukan. Walau demikian, terdapat beberapa prinsip dasar yang dapat mengarahkan kita untuk mewujudkan hal tersebut.

  1. Disiplin dimulai dari orangtua, kemudian anak

Kadang kita kehabisan akal dalam usaha untuk “mengubah” tingkah laku anak. Kita menggunakan berbagai cara, kadang menghukum, memarahi, bicara dengan nada tinggi, dsb. Namun dalam mempraktikkan mindful parenting kita perlu belajar untuk berinteraksi dengan anak dengan tenang. Dalam hal ini orangtua harus kembali belajar mengendalikan diri. Pengendalian diri yang dimaksud bukan berarti kita menyimpan emosi & uneg-uneg dan tidak mengekspresikannya. Melainkan kita menyadari pemikiran dan perasaan kita dalam konteks yang kita hadapi. Dengan kesadaran ini kita dapat lebih mengontrol tingkah laku kita.

Rasanya begitu abstrak, mari kita bahas dengan contoh : misalnya, kita marah karena anak lama sekali saat siap-siap berangkat ke sekolah. Dalam situasi ini kita perlu merenungkan, apa yang sebenarnya membuat kita marah? Apakah kita khawatir anak kita dihukum? Apakah kita khawatir dicap kurang peduli terhadap kegiatan sekolah anak? Apakah kita khawatir terlambat pergi ke kantor? Perasaan apa yang muncul? Cemas? Malu? Kecewa? Gali terus penyebabnya dengan pertanyaan kenapa (why). Percayalah emosi yang muncul pada diri kita tidak pernah disebabkan oleh orang lain melainkan oleh diri kita sendiri. Saat anda sudah menemukannya, ambil tindakan untuk mengubah hal tersebut dan tampilkan tingkah laku yang lebih efektif, seperti membicarakan hal tersebut dengan anak, membuat kesepakatan mengenai waktu bangun, waktu keberangkatan, bangun lebih pagi dari anak dan membangunkan anak dengan cara yang lebih menyenangkan dan mudah diterima anak, dan jadikan hal tersebut sebagai kebiasaan. Tingkah laku itu tentu lebih efektif dibandingkan marah-marah atau menggedor pintu kamar anak, namun pertama-tama membutuhkan ketekunan dari orangtua untuk melakukannya setiap hari.

  1. Hubungan orangtua-anak harus melebihi sistem reward-punishment

Kadang orangtua cenderung menyederhanakan proses mendisiplinkan hanya dengan pemberian reward & punishment. Saat dilakukan dengan cara yang kurang tepat, dapat menimbulkan perasaan bahwa cinta kita sebagai orangtua kepada anak bersyarat. “Wah, hebat kamu ya ranking 1, itu baru anak Papa!”, “Anak mama kan tidak cengeng yaaaa..”. Kalimat itu sering terlontar tanpa kita sadari. Apakah kalau tidak ranking 1, saya bukan anak papa? Apakah kalau saya sedih / marah / kecewa dan menangis saya bukan anak mama? Kok susah amat jadi anak mama & papa?! Syarat & ketentuan berlaku?

Dalam hal ini kita perlu spesifik dalam menyampaikan tingkah laku yang kita harapkan kepada anak. Fokus pada usaha yang dilakukan, bukan pada hasilnya. Walau bukan juara kelas, tentunya kita perlu mendampingi proses saat anak belajar, mengobrol dengan anak untuk mengetahui proses berpikirnya, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis, berikan masukan mengenai cara belajar yang lebih efektif, tanya pengalaman dan perasaan anak mengenai situasi belajar di sekolah, dan bersama-sama cari solusi untuk mengatasi kesulitan anak, tentunya hal tersebut lebih efektif. Dalam hal ini anak akan merasa lebih aman karena ia tahu dan merasakan kepedulian dari orangtuanya, bukan hanya tuntutan.

  1. Proses komunikasi sangat penting

Lakukan komunikasi sejak dini (bahkan sejak bayi!), ajaklah anak berbicara, pancing anak untuk merespon, tempatkan anak sebagai lawan bicara yang setara, sesuaikan diri anda dengan usia dan pemahaman anak. Menempatkan anak sebagai lawan bicara yang pasif (sebagai pihak yang harus mendengarkan & menurut) akan menghambat proses komunikasi dan menimbulkan penolakan. Dalam hal ini orangtua perlu fokus pada hal yang kita inginkan dan bicaralah secara jelas dan spesifik. Ungkapkan pemikiran, perasaan dan pendapat anda mengenai suatu tingkah laku anak secara spesifik. Di sisi lain, tanyakan juga pemikiran, perasaan dan pendapatnya. Proses komunikasi tidak hanya secara verbal, namun sensitivitas kita terhadap intonasi suara, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan bahasa nonverbal lain akan membantu kita lebih memahami pesan yang disampaikan oleh anak secara lebih akurat.

  1. Anak butuh cinta tanpa syarat

Hal pertama yang dapat anda lakukan adalah cintailah diri anda tanpa syarat. Setelah hari yang sibuk dan berat, katakan pada diri anda, it’s ok kalau cucian masih menumpuk, it’s ok kalau tadi saya terlambat jemput anak, it’s ok kalau saya tidak sempat mandi dan menyambut suami pulang kantor dengan muka kucel, berminyak, dan daster yang bau asem, karena hari ini saya sudah melakukan yang terbaik yang saya bisa lakukan! Bebaskan diri anda dari berbagai S&K, karena pribadi anda lebih luas dibandingkan semua syarat tersebut. Kalau hari ini anda berhasil bebas dari 1 syarat, lanjutkan di hari-hari berikutnya, kelak kita akan merasa lebih bebas dan nyaman dengan diri kita sendiri, & pada akhirnya memiliki kemampuan untuk mencintai anak-anak kita, tanpa syarat.

  1. Anak-anak, seperti orangtua, juga belajar dari kesalahan

Dalam hidup sehari-hari kita bisa jadi melakukan kesalahan dan mengambil keputusan yang buruk. Hal ini tidak jarang menimbulkan kekecewaan dan konflik dalam diri maupun dengan orang lain. Berdamailah dengan kesalahan tersebut, tugas kita sebagai orangtua tidak hanya membantu anak membuat keputusan yang baik & matang, namun juga menjadi role-model bagi anak bagaimana menghadapi kegagalan dan kekecewaan. Seperti yang sudah disampaikan di atas, berkomunikasilah secara terbuka, baik mengenai hal baik, maupun mengenai hal yang buruk. Fokus pada permasalahan dan tingkah laku, bukan pada karakter / memberi label negatif pada anak.

  1. Bermainlah dengan anak

Kita sebagai manusia, tidak terbebas dari masalah dan stres dalam kehidupan sehari-hari. Bertahan dalam KRL / Trans Jakarta / angkutan umum lain atau menembus kemacetan untuk sampai di kantor tepat waktu saja merupakan pencapaian yang perlu kita banggakan sebagai warga Jakarta. Kendala ini pun dihadapi oleh anak kita dalam kehidupan sehari-hari, berhadapan dengan guru, ketemu gebetan, mengerjakan PR, sampai pada menata rambut masa kini yang sempurna dapat menjadi sumber stres bagi anak. Dalam hal ini keluarga perlu kreatif dalam merencanakan aktivitas yang menyenangkan & bervariasi.

Kegiatan bermain memungkinkan anak menggunakan kreativitasnya dalam mengembangkan imajinasi, keterampilan motorik, fisik, kognitif, dan emosional. Dalam bermain, anak mengeksplorasi dan belajar menguasai keterampilan tertentu, kadang memainkan peran sebagai orang lain / orang dewasa sehingga mereka dapat memahami sudut pandang berbeda. Dalam permainan kelompok, anak juga seperti berada dalam simulasi untuk berbagai, bernegosiasi, menyelesaikan konflik dan bersosialisasi. Di sisi lain hal ini juga merupakan sarana untuk mengekspresikan emosi dan stres.

  1. Hubungan (relationship) sebagai hal yang paling penting

Pada akhirnya, hubungan kita dengan anak adalah yang paling utama. Anak belajar dari orangtua mengenai struktur dalam keluarga, bagaimana mengekspresikan emosi, bagaimana kita menunjukkan perhatian dan kasih sayang, bagaimana kita belajar dan menghadapi kegagalan. Berbeda dengan orang dewasa, anak memiliki potensi kemungkinan yang tidak terbatas yang mungkin tidak dapat dibayangkan oleh kita saat ini. Idealisme orangtua kadang justru membatasi potensi tersebut. Karena itu membangun relasi yang harmonis, penuh kasih sayang, dan kepercayaan lebih penting daripada merencanakan secara detil masa depannya, menetapkan target-target yang harus dicapai atau berdebat mengenai apa yang baik / buruk bagi anak. Sebagai orangtua kita kadang perlu belajar untuk melepaskan diri dan memandang anak sebagai pribadi yang mampu menjalani hidup sesuai dengan usia & tahap perkembangannya. Pada akhirnya kita perlu memilih dan menyesuaikan metode pengasuhan dengan nilai-nilai pribadi kita, namun dengan mempertimbangkan pola, kebutuhan, perkembangan dan respon anak. Relasi yang sehat membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dijalani 🙂

With ❤,

Rini H.S.

 

REFERENSI

Young, J.E, Klosko, J.S, & Weishar, M.E. (2003). Schema Therapy : A Practitioner’s Guide. New York : The Guilford Press.

Barbieri, C. (n.d.). Seven Important Aspects of Mindful Parenting. Diunduh dari http://www.waldorfearlychildhood.org

Duncan, L.G., Coatsworth, J.D., & Greenberg, M.T. (2009). A Model of Mindful Parenting: Implications for Parent–Child Relationships and Prevention Research. Diunduh dari http://www.prevention.psu.edu

Baca Artikel Lain

Otak Remaja

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa remaja kurang lebih dimulai dari usia 11 – 20 tahun

Baby Blues & Postpartum Depression

Proses kehamilan, melahirkan dan memiliki anak merupakan salah satu peristiwa yang signifikan bagi seorang perempuan. Dalam proses itu tidak hanya status yang

Intimate Partners?

Pernah dengar istilah HTS? Sekarang ini, penggunaan istilah HTS seringkali digunakan oleh banyak orang untuk menjelaskan konsep hubungan tanpa status. Apa sih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *