Intimate Partners?

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Pernah dengar istilah HTS? Sekarang ini, penggunaan istilah HTS seringkali digunakan oleh banyak orang untuk menjelaskan konsep hubungan tanpa status. Apa sih hubungan tanpa status itu? Maksudnya, hubungan antara dua orang yang kelihatannya sih sudah dekat, seperti orang pacaran, namun statusnya masih belum pacaran. Kalau zaman saya dulu, istilah kerennya adalah TTM atau “Teman Tapi Mesra”. Tapi kalau saya pakai kata-kata TTM ke remaja-remaja yang konseling dengan saya, seringkali saya dibilang norak.

Semakin jauh, penjelasan tentang hubungan tanpa status terus berkembang dengan penggunaan istilah-istilah seperti PHP atau “Pemberi Harapan Palsu”. Individu yang mendapat gelar PHP disinyalir sebagai orang yang suka ‘menggantungkan’ hubungan atau ‘pemelihara’ fans. Sedangkan, individu yang bukan PHP seringkali dibuat baper oleh para individu PHP.

Istilah lain yang saya temukan dari proses konseling adalah istilah KKG atau “kakak ketemu gede”. Maksudnya, dua individu (kebanyakan yang sudah punya pacar) memiliki hubungan persahabatan yang sangat dekat, yang bisa dibilang seperti kakak-beradik. Jadi, pacar mereka tidak bisa marah atau cemburu dengan hubungan mereka, karena hubungan mereka sejatinya sudah seperti hubungan darah.

Sebenarnya, hubungan yang terjalin dalam HTS dan ‘kakak ketemu gede’ itu bisa dibilang sebagai hubungan intim atau tidak sih? Untuk membuka penjelasan, mungkin bisa dimulai dari pertanyaan ini: “Do people understand about the nature of intimacy?”. 

Apa sih yang mendasari ‘keintiman´atau intimacy itu? Apa yang membuat kita bisa dibilang punya hubungan yang intim dengan orang lain?

Perbedaan antara hubungan intim dengan hubungan lain bisa dilihat dari beberapa hal. Yang pertama, pasangan yang ada dalam hubungan intim biasanya memiliki pengetahuan atau knowledge yang lebih banyak tentang pasangan mereka dibandingkan orang lain. Mereka berbagi informasi mengenai sejarah kehidupan, preferensi, perasaan, dan keinginan yang biasanya tidak akan mereka bagi ke orang lain.

Seperti misalnya, saat seseorang lebih banyak bercerita kepada pacar mereka dibandingkan orang lain. Atau mungkin, lebih banyak bercerita kepada ‘teman tapi mesra’ atau ‘kakak ketemu gede’ dibandingkan orang lain. Mereka bisa bercerita tentang pengalaman hidup sejak kecil, hobi, hal yang disuka, orang yang dibenci, kekesalan kepada orangtua, atau hal-hal lainnya yang tidak selalu mereka sampaikan kepada orang lain. Pengetahuan yang lebih akan tiap pasangan ini merupakan salah satu faktor yang mendeteksi keintiman antara satu orang dengan orang lainnya.

Selain knowledge, hal lain yang juga bisa melihat derajat keintiman adalah caring. Tau caring? Kalau diartikan ke dalam Bahasa Indonesia artinya peduli atau perhatian. Pasangan yang ada dalam hubungan intim biasanya peduli tentang satu sama lain, mereka punya perhatian yang lebih kepada pasangannya dibandingkan ke orang lain.

Ini bisa menjelaskan mengapa terkadang seseorang yang berada dalam hubungan pacaran suka bertanya tentang hal-hal yang dianggap ‘ngga penting’ oleh orang lain seperti “kamu lagi apa?”, “udah makan belum?”, atau memberi informasi seperti “aku baru berangkat”, “aku mau tidur”, “aku makan nasi”, “aku masuk kamar mandi”, “aku keluar dapur” dan sederet informasi lainnya yang terkesan ‘cetek’.

But did you know? It matters for them who engage in that relationship, because they care for each other and want to have a lot of knowledge about their partners, even the smallest one, the unnecessary things that they don’t share with other people.

Tidak hanya hal-hal kecil, pasangan yang ada dalam hubungan intim juga peduli dan peka terhadap perasaan pasangannya. Semakin mereka percaya bahwa pasangannya tahu, mengerti, dan menghargai mereka, maka tingkat keintiman diantara pasangan tersebut pasti akan meningkat.

Ke tiga, interdependence. Apa sih interdependenceInterdependence bisa dijelaskan sebagai kondisi dimana apa yang dilakukan oleh salah satu orang memengaruhi orang yang lainnya, bisa dibilang seperti ketergantungan atau saling berpengaruh. Pengaruh ini bisa dibilang intim kalau sering kali terjadi (seringkali saling mempengaruhi), kuat (punya efek yang mendalam untuk satu sama lain), beragam (pengaruhnya bisa muncul dalam berbagai cara), dan lama (saling mempengaruhi untuk waktu yang lama).

Misalnya, seseorang memiliki pacar yang mengatakan kalau dia sangat suka dengan perempuan yang bisa melakukan kayang. Pernyataan dari pacar tersebut lantas memengaruhi pikiran orang itu dan membuatnya mulai memelajari senam lantai agar bisa melakukan kayang (mungkin ngga sih?, mungkin saja!). Ngga mungkin kan kalau yang mengatakan sangat suka dengan perempuan yang bisa kayang itu tetangga sebelah rumah, lalu kita mulai belajar senam lantai agar bisa kayang? (well, kecuali kalau ternyata tetangganya memang pasangannya). We choose a person who significant to us. Just the one that have an intimate relationship with you that can affect your thought and behavior.

happy_couple Yang ke empat adalah mutuality. Maksud dari mutuality di sini adalah kelekatan. Orang yang ada dalam hubungan intim seringkali menganggap diri mereka sebagai ‘pasangan’, bukan dua individu yang terpisah. Pasangan yang ada dalam hubungan intim seringkali melihat diri mereka sebagi “kami” dibandingkan “saya” atau “dia”. Pandangan yang berubah dari “saya” menjadi “kami” ini juga bisa menjadi tanda bahwa individu tersebut sudah merasakan adanya kelekatan dengan pasangannya.

Selain yang sudah dijelaskan sebelumnya, hal lain yang juga bisa membuat suatu hubungan dikatakan intim adalah adanya trust. Jika hanya dilihat dari katanya, trust biasa diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai ‘percaya’ sehingga kesannya lebih mengarah pada keyakinan. Padahal, trust yang dijelaskan di sini berbeda, trust adalah ekspektasi atau harapan bahwa pasangan saya akan memperlakukan saya dengan baik dan adilTrust terbentuk saat orang berharap hubungannya akan baik-baik saja dan berharap bahwa pasangannya akan memberikan apa yang mereka butuhkan serta peduli terhadap kesejahteraan mereka.

Dengan memiliki harapan bahwa hubungannya baik-baik saja atau dengan adanya harapan akan kesejahteraan dalam hubungannya, setiap individu tentu akan berusaha untuk membentuk knowledge, caring, interdependence, dan mutuality dalam hubungan mereka.

Jadi jika mau kita rangkum, keintiman dalam suatu hubungan dapat dilihat dari knowledge, caring, interdependence, mutuality, & trust yang ada dalam hubungan tersebut. Walaupun begitu, masih ada satu hal lagi yang perlu dimunculkan dalam suatu hubungan, yaitu commitment. Keberlangsungan hubungan yang intim memerlukan komitmen dari setiap individunya. Komitmen mengenai hubungan terbentuk saat setiap orang di dalam hubungan memiliki tujuan untuk menjaga keberlanjutan hubungan mereka, dengan adanya komitmen, setiap individu akan rela untuk menginvestasikan waktu, usaha, dan sumber daya yang mereka butuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Tanpa komitmen, pasangan yang sudah dekat bisa saja semakin menjauh dan merasa semakin tidak saling mempengaruhi atau tidak saling mengetahui lagi antara satu sama lain.

Walaupun demikian, none of these components is absolutely required for intimacy to occurand each may exist when the others are absent. Kemunculan atau ketidakmunculan dari komponen inilah yang nantinya akan menentukan derajat keintiman dalam suatu hubungan. Idealnya, komponen-komponen ini berjalan beriringan dan seimbang, tapi dalam kenyataannya, tidak ada satu batasan mutlak untuk menjelaskan kualitas keintiman dalam suatu hubungan. Semuanya tetap bergantung dari penghayatan masing-masing individu yang memandang keintiman dalam hubungan mereka.

Jadi, kembali ke pertanyaan tentang derajat keintiman ‘hubungan tanpa status’ dan ‘kakak ketemu gede’, sebenarnya, kita bisa menggunakan penjelasan tentang the nature of intimacy sebagai sarana untuk menganalisis dan berpikir, apa sudah intim?. Apa benar pacar saya adalah orang yang paling intim dengan saya? Atau justru, ‘teman tapi mesra’ dan  ‘kakak ketemu gede’ yang lebih intim dengan saya? Is there anything wrong? Or everything is alright? Hayo yang mana?

Regards,

Pradina.

Baca Artikel Lain

Otak Remaja

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa remaja kurang lebih dimulai dari usia 11 – 20 tahun

Baby Blues & Postpartum Depression

Proses kehamilan, melahirkan dan memiliki anak merupakan salah satu peristiwa yang signifikan bagi seorang perempuan. Dalam proses itu tidak hanya status yang

Mindful Parenting

Menjadi orangtua adalah salah satu peran yang paling sulit & membingungkan bagi kebanyakan orang, termasuk bagi saya sendiri. Semasa sekolah & kuliah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *