Bisa Bikin Saya Gak Inget Dia Lagi ?

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Special request ini paling sering datang ke tempat praktek. Bukan cuma milik para ABG yang baru patah hati tapi juga kaum tua yang hatinya tersakiti. Memang dilema banget jadi hippocampus; si penyimpan memori di otak. Kalo terlalu keren kerjanya suka gak diinginkan. Kalo males-malesan juga suka kena omel. Tapi, kembali lagi ke masalah utama, jadi bisa gak ?

Mungkin kalau saat itu kita sedang ada di film Men in Black bisa pinjam neuralizer-nya agent K buat hapus memori. Sayangnya saat bersekolah dulu alat itu gak ada. Tapi sekelompok neuroscientist  Belanda (mungkin korban patah hati juga) tahun 2013 lalu menemukan alat yang disebut electroconvulsive therapy (ECT).  Alat ini menggunakan listrik untuk memberi kejut pada otak sehingga bisa melemahkan ingatan pada satu episode memori.  Tapi ya tentunya pakai acara kejang karena dilistrik, itupun bukan hilang 100%, cuma jadi tidak ingat detail.

Neuralizer-Memory Zipping

Kalau direnungkan lagi, sebenarnya yang mau dihilangkan itu memori atau kandungan emosi yang menyertai memori ya? Saya selalu bilang bahwa memori itu ibarat stiker tapi kandungan emosi yang menyertai memori itu ibarat kantong di balik stiker. Kalau memorinya positif, isi kantongnya menyenangkan. Tapi kalau memorinya negatif, isi kantong itu ibarat nanahnya jerawat. Membuat kita meradang di waktu yang tak tentu.  Maka yang membuat kita menderita adalah emosi kita sendiri sebagai respon terhadap peristiwa yang lalu. Pemicunya ialah pikiran kita yang bergerak liar ke masa lalu selanjutnya mencemaskan masa depan. Singkat kata, dalam kondisi seperti ini kita sedang tidak hidup di sini kini. Yang lebih melelahkan lagi, memori itu terus mengaktifkan sistem saraf sympathetic yang menyiapkan tubuh seseorang pada kondisi fight, flight or freeze. Semua otot tegang, tidur pun tak nyenyak.

Ada banyak terapi yang bisa dilakukan buat membantu menghadapi rasa tidak nyaman. Efektivitasnya di tiap orang berbeda-beda. Terapi-terapi ini umumnya membantu otak dan tubuh melakukan adjustment terhadap memori tersebut. Lalu, berapa kali ya sampai bisa hilang ? Nah itu juga pertanyaan yang seringkali terdengar. Tiap orang berbeda-beda tergantung akar permasalahannya. Yang pasti, kesediaan menerima rasa yang ada juga menjadi salah satu syarat penting bagi seseorang untuk bisa membantu dirinya sendiri. Semakin tidak menginginkan semakin lekat di ingatan. Lalu setelah terapi-terapi ini dilakukan sudah tidak ingat lagi ya ? Wah amnesia dong ! Dipastikan masih ingat, hanya saja daya kontrolnya terhadap rasa kita berkurang. Tapi itu pun tidak selalu bisa dipastikan, karena semua kembali ke free will tiap orang. Kalo hobinya ungkit-ungkit ya so pasti rasa gak nyamannya nempel terus kayak perangko.

Lalu, yang bisa menentukan juga adalah, kemauan seseorang untuk melatih pikiran yang sering bergerak liar tadi. Caranya dengan sadar sama segala sesuatu yang kita lakukan sehari-hari. Makan sadar, jalan sadar, ngomong sadar, napas sadar. Dengan begitu, kita jadi lebih bisa menikmati hari-hari baru yang dijalani tanpa sering terjebak dalam memori. (AA)

Baca Artikel Lain

Otak Remaja

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa remaja kurang lebih dimulai dari usia 11 – 20 tahun

Baby Blues & Postpartum Depression

Proses kehamilan, melahirkan dan memiliki anak merupakan salah satu peristiwa yang signifikan bagi seorang perempuan. Dalam proses itu tidak hanya status yang

Mindful Parenting

Menjadi orangtua adalah salah satu peran yang paling sulit & membingungkan bagi kebanyakan orang, termasuk bagi saya sendiri. Semasa sekolah & kuliah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *