<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Enlightmind</title>
	<atom:link href="https://enlightmind.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://enlightmind.com</link>
	<description>...part of your inner journey...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 27 Jan 2022 09:06:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.7</generator>

<image>
	<url>https://enlightmind.com/wp-content/uploads/2016/05/cropped-Englightmind-new-logo-012-32x32.png</url>
	<title>Enlightmind</title>
	<link>https://enlightmind.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kekerasan Antar Generasi</title>
		<link>https://enlightmind.com/kekerasan-antar-generasi/</link>
					<comments>https://enlightmind.com/kekerasan-antar-generasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[enlightmind]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Apr 2019 09:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://enlightmind.com/?p=2484</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Alvieni Angelica Tahukah kamu bahwa kekerasan yang terjadi dalam keluarga tanpa disadari bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Nggak percaya? Cobalah tengok cerita dari orangtua-kakek nenek-buyut kita. Mereka yang pernah mengalami kekerasan biasnya mewarisi perilaku kekerasan tersebut dari orangtua maupun pengasuh utama mereka. Mengapa demikian? Joel S. Milner; Distinguished Research Professor dari Northern Illinois [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh: Alvieni Angelica</strong></p>



<p></p>



<p></p>



<p>Tahukah kamu bahwa kekerasan yang terjadi dalam keluarga tanpa disadari bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Nggak percaya? Cobalah tengok cerita dari orangtua-kakek nenek-buyut kita. Mereka yang pernah mengalami kekerasan biasnya mewarisi perilaku kekerasan tersebut dari orangtua maupun pengasuh utama mereka. Mengapa demikian?</p>



<p>Joel S. Milner; Distinguished Research Professor dari Northern Illinois University pernah menyebutkan mengenai <em>automatic behavior </em>yang diwariskan oleh anak yang mengalami kekerasan orangtua. Saat mereka dewasa dan memiliki anak, maka ada kecenderungan melakukan tingkah laku kekerasan serupa dengan yang pernah dilakukan oleh orangtua mereka terhadap diri mereka. Bila dilihat dari teori otak emosi, hal tersebut sangat bisa dipahami. Semua hal yang pernah kita alami dan kita hayati sebagai persitiwa-peristiwa yang mengancam kesejahteraan diri akan tersimpan dalam otak emosi. Nanti; entah di tahun kapan; ketika ada stimulus serupa masuk melalui panca indera kita, maka memori masa lalu akan kembali ter-trigger, membuat saraf kita secara otomatis berpindah ke sistem simpatetik yang membuat diri kita siaga dalam survival mode, sehingga orang luar melihat tampilan diri kita seakan siap untuk melawan (<em>fight</em>); melarikan diri (<em>flight</em>) atau membeku (<em>freeze</em>). Dalam kondisi ini, otak logika tidak lagi bisa berfungsi secara prima karena kondisinya terbajak oleh otak emosi atau yang dikenal dengan istilah <em>amygdala hijjack.</em></p>



<p>Selain itu, dewasa yang pernah mengalami kekerasan masa kanak-kanak, cenderung memiliki sistem saraf yang lebih sensitif terhadap situasi yang memicu ketegangan, sehingga kejadian kecil sekalipun bisa menyalakan kembali reaksi emosi mereka dan menggiring tubuh untuk melakukan perilaku yang dulu pernah diterimanya atau bereaksi sama seperti saat ia menerima perilaku yang dulu. Lalu, bagaimana mengatasinya?</p>



<p>Dalam hal ini, peran serta profesional seperti psikolog sangatlah diperlukan. Kamu akan diajak untuk menelaah kembali perjalanan hidupmu untuk menelaah pola aksi dan reaksi yang biasa terjadi. Mengangkat pola ini ke ranah sadar adalah sebuah langkah awal yang perlu dilakukan. Sesuatu yang tidak disadari akan sulit untuk diubah. Selanjutnya konseling dan psikoterapi menjadi bagian tidak terpisahkan untuk mengobati luka-luka yang ada dan mencoba melatih diri melihar dari perspektif lain di luar perspektif korban ataupun perspektif negatif tentang kehidupan. Rutinitas perawatan diripun tidak lepas dari bagian yang mutlak harus dijalankan dalam keseharian. Tanpa semua hal itu, sulit bagi kita untuk mengubah apa yang sudah berjalan dari generasi ke generasi. Oh ya satu lagi, menurut teori trauma antar generasi, hanya dibutuhkan 1 orang buat memutus rantai kekerasan yang ada. Nah, kamukah orangnya?</p>



<p>Selamat berproses!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://enlightmind.com/kekerasan-antar-generasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sulitnya berkata &#8220;Tidak!&#8221;</title>
		<link>https://enlightmind.com/sulitnya-berkata-tidak/</link>
					<comments>https://enlightmind.com/sulitnya-berkata-tidak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[enlightmind]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jan 2018 07:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://enlightmind.com/?p=2473</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Alvieni Angelica Pernahkah kamu merasa tidak enak hati ketika harus menolak permintaan dari orang lain terlebih lagi mereka yang sangat dekat hubungannya dengan kita. Padahal seringkali kita sendiri sebenarnya memang tidak mungkin untuk melakukan apa yag diminta mereka karena satu dan lain hal. Namun yang dikatakan justru sebaliknya ditambah senyuman bahkan terkadang tambahan janji [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Oleh: Alvieni Angelica</p>



<p class="has-medium-font-size">Pernahkah kamu merasa tidak enak hati ketika harus menolak permintaan dari orang lain terlebih lagi mereka yang sangat dekat hubungannya dengan kita. Padahal seringkali kita sendiri sebenarnya memang tidak mungkin untuk melakukan apa yag diminta mereka karena satu dan lain hal. Namun yang dikatakan justru sebaliknya ditambah senyuman bahkan terkadang tambahan janji yang orang lain pun tidak memintanya. Sesudahnya kita merasa kewalahan dan menyesal sesudahnya. Namun, pola yang sama seperti tidak terhindarkan untuk kembali terulang lagi. </p>



<p class="has-medium-font-size">Bila memang pola seperti ini acapkali terulang, maka penting bagi kita untuk berhenti sejenak dan berefleksi. Apakah rasa &#8221;tidak enak&#8217; ini sudah lama ada di dalam diri. Cobalah untuk membuat perenungan panjang ke masa kita dibesarkan. Adakah figur orangtua atau caregiver lainnya yang sering sulit menolak permintaan orang lain sehingga tanpa disadari kita meniru tindakan tersebut. Atau adakah pola pengalaman masa dibesarkan dimana kamu merasa sulit untuk bisa diterima oleh orang-orang terdekat sehingga membuatmu berusaha menyenangkan hati mereka. Buatlah butir-butir perenungan yang bisa membuatmu melihat kecenderungan sikap yang kamu tampilkan terhadap permintaan orang lain. </p>



<p class="has-medium-font-size">Setelah kamu mulai melihat polanya, kamu bisa datang ke layanan profesional terdekat seperti psikolog untuk membantumu mengurai permasalahanmu termasuk di dalamya langkah-langkah yang bisa kamu lakukan untuk memulainya seperti bagaimana saat kamu merasakan kemunculan perasaan tersebut, teknik-teknik apa yang bisa kamu pakai untuk membuatmu mampu memilih reaksi terhadap tuntutan yang datang sehingga tidak jatuh ke pola yang sama. Tentunya semua ini membutuhkan waktu untuk berproses karena tidak ada perubahan yang bisa terlaksana dengan instan. So, tunggu apa lagi, yuk mulai berefleksi!</p>



<p class="has-medium-font-size"></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://enlightmind.com/sulitnya-berkata-tidak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Otak Remaja</title>
		<link>https://enlightmind.com/otak-remaja/</link>
					<comments>https://enlightmind.com/otak-remaja/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[enlightmind]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2017 03:42:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://enlightmind.com/?p=1973</guid>

					<description><![CDATA[Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa remaja kurang lebih dimulai dari usia 11 &#8211; 20 tahun (Papalia, Olds, &#38; Feldman, 2007). Saat memasuki masa remaja, individu sudah menguasai tugas perkembangan seperti kontrol motorik halus dan kasar, bahasa, reasoning, dan kemampuan berpikir abstrak. Pada masa ini, remaja akan menghadapi tantangan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa remaja kurang lebih dimulai dari usia 11 &#8211; 20 tahun (Papalia, Olds, &amp; Feldman, 2007). Saat memasuki masa remaja, individu sudah menguasai tugas perkembangan seperti kontrol motorik halus dan kasar, bahasa, <em>reasoning, </em>dan kemampuan berpikir abstrak. Pada masa ini, remaja akan menghadapi tantangan dan perubahan yang lebih bervariasi. Pubertas, perubahan emosional, dan perubahan psikologis merupakan persiapan individu memasuki masa dewasa. Dapat dikatakan masa remaja merupakan kesempatan untuk mengembangkan otak yang lebih <em>advanced</em>, namun dapat juga dikatakan sebagai masa yang rentan, terlebih jika terpapar oleh <em>neurotoxins</em> seperti rokok, alkohol, dan narkoba (Chamberlain, n.d.).</p>
<p>Interaksi yang kompleks antara perubahan hormonal, kemampuan kognitif, dan dorongan untuk memahami diri ditandai dengan kesempatan untuk mendapatkan <em>insight </em>sekaligus kerentanan terhadap bahaya psikososial dan fisik. Tugas perkembangan remaja mencangkup membangun otonomi, mengembangkan hubungan dengan individu lain, menyesuaikan diri dengan tuntutan sekolah. Semua hal tersebut mengarah kepada pemisahan diri sebagai pribadi <em>(self). </em>Pada masa ini individu melakukan eksperimen dengan nilai moral, keterampilan membuat keputusan, dan tingkah laku sosial. Dengan kata lain, pada masa ini remaja mencari tahu mengenai dirinya dan membentuk gambaran mengenai diri mereka di masa depan. Proses ini terjadi dalam konteks sosial dan lingkungan. Mereka sering melakukan evaluasi terhadap dirinya, membandingkan dengan persepsi mereka mengenai pandangan orang lain (Brown &amp; Prinstein, 2011).</p>
<p>Menurut Elkind (dalam Papalia, Olds, &amp; Feldman, 2007), pemikiran remaja cenderung <em>immature. </em>Ketidakdewasaan ini muncul dalam enam karakteristik :</p>
<p><em>Idealism</em> dan <em>criticalness</em></p>
<p>Remaja memiliki pandangan bahwa dunia mereka adalah dunia ideal. Seiring dengan perkembangan <em>verbal reasoning </em>dan berbagai informasi yang mereka serap, mereka meyakini bahwa mereka lebih tahu dibandingkan individu dewasa.</p>
<p><em>Argumentativeness</em></p>
<p>Remaja pada umumnya selalu mencari kesempatan untuk mencari dan menunjukkan kemampuan mereka, mereka menjadi argumentatif.</p>
<p><em>Indecisiveness</em></p>
<p>Remaja dapat memiliki berbagai alternatif di saat yang bersamaan namun belum memiliki strategi yang efektif untuk memilih. Hal ini membuat mereka kesulitan untuk memutuskan hal-hal yang sederhana.</p>
<p><em>Apparent hypocrisy</em></p>
<p>Remaja cenderung tidak dapat membedakan cara mengekspresikan idealisme dengan melakukan pengorbanan yang sesuai dengan idealismenya.</p>
<p><em>Self-consciousness</em></p>
<p>Pada masa ini remaja dapat berpikir mengenai pikiran mereka sendiri. Mereka sering berasumsi bahwa semua orang memiliki pikiran yang sama dengan dirinya, berpusat pada dirinya.</p>
<p><em>Specialness </em>dan<em> invulnerability</em></p>
<p>Remaja pada umumnya memiliki keyakinan bahwa dirinya spesial dan pengalaman mereka sangat unik. Menurut Elkind pola pemikiran ini merupakan bentuk egosentrisme yang mendasari tingkah laku yang berisiko dan berbahaya.</p>
<p>Berikut ini merupakan beberapa fakta mengenai otak remaja (Chamberlain, n.d.):</p>
<ol>
<li>Otak berkembang dari area paling belakang ke depan (<em>bottom-up</em>)</li>
</ol>
<p><em>Brain-stem</em> &amp; <em>mid-brain</em> merupakan area yang berkembang lebih dulu. Area ini mengatur fungsi tubuh yang mendasar seperti tekanan darah dan suhu tubuh. Berikutnya area <em>limbic </em>dan<em> cerebral cortex</em>. <em>Limbic system</em> merupakan area utama yang mengatur emosi, sedangkan <em>cerebral cortex</em> bertanggung jawab atas proses <em>reasoning, </em>logika, dan pengambilan keputusan. Dapat dikatakan <em>cerebral cortex</em> merupakan CEO dari otak.</p>
<p>Pada saat remaja menjadi dewasa, otak mereka menjadi lebih cepat, tajam, dan terspesialisasi. Mereka mengembangkan kemampuan menalar, kapasitas untuk berpikir abstrak dan kritis, mereka memahami pertanyaan bagaimana dan mengapa, mampu menganalisis isu yang kompleks, dan mengevaluasi alternatif solusi. Walaupun remaja memiliki kapasitas untuk belajar dan mengingat informasi yang sangat berkembang, pada masa ini mereka cenderung kesulitan untuk membuat prioritas dan mengorganisasikan tugas. Karena itu remaja membutuhkan arahan dari orang dewasa saat mengembangkan keterampilan ini.</p>
<p>2. Transisi pada “otak emosi”</p>
<p>Masa remaja merupakan masa yang penuh “drama”. Yang perlu dipahami adalah pada masa ini remaja mengandalkan <em>amygdala</em> yang mengontrol aspek emosi. Karena itu aspek emosi dirasakan lebih intens, nyata, dan mereka cenderung menggunakan aspek emosi dalam merespon situasi. Mereka juga masih dalam proses belajar untuk mengenal dan merespon aspek emosi tersebut. Karena itu, otak remaja yang masih berkembang rentan terhadap stres. Mereka cendeng over-reaktif, meledak-ledak, dan mungkin sampai melanggar aturan. Mereka dapat marah dan menangis tanpa mengerti alasannya. Walau demikian, seiring berkembangnya <em>cerebral cortex</em>, proses menalar dan menilai menjadi lebih terarah.</p>
<p>3. Otak laki-laki vs perempuan</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="319">Laki – laki</td>
<td width="319">Perempuan</td>
</tr>
<tr>
<td width="319">Lebih banyak white matter (sel penghubung)</p>
<p>Membantu dalam mentransfer informasi ke seluruh area otak, meningkatkan kemampuan spasial.</td>
<td width="319">Lebih banyak gray matter (inti sel)</p>
<p>Efisien dalam memproses informasi, baik dalam kemampuan verbal</td>
</tr>
<tr>
<td width="319">Amygdala &amp; hypothalamus</p>
<p>Kedua struktur ini bertanggung jawab atas respon tubuh. Menjelaskan minat laki-laki terhadap olahraga fisik, dorongan seksual yang lebih besar, serta kebutuhan untuk lebih banyak bergerak.</td>
<td width="319">Hippocampus</p>
<p>Bagian ini membantu proses transfer informasi ke <em>long-term memory</em>, dipercaya menjelaskan keterampilan sosial pada perempuan</td>
</tr>
<tr>
<td width="319">Ritme perkembangan lebih lambat dibanding perempuan</td>
<td width="319">Ritme perkembangan lebih cepat</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Perbedaan ini pada dasarnya berlaku umum namun tentunya dapat bervariasi pada setiap individu. Walau demikian pada dasarnya perbedaan ini ingin menjelaskan bahwa perkembangan laki-laki dan perempuan berbeda. Hal ini tentu menghasilkan tingkah laku yang berbeda pula. Penting untuk mengenali pola perubahan dan perkembangan individu, menstimulus dan mendampingi sesuai perkembangan minat dan rasa ingin tahunya secara spesifik.</p>
<p>4. Remaja butuh lebih banyak tidur</p>
<p>Perubahan kimiawi dan struktur pada otak membuat otak remaja membutuhkan lebih banyak istirahat. Terhadap hormon yang juga menstimulus individu untuk tidur pada waktu tertentu sehingga menyebabkan remaja dapat bangun sampai tengah malam dan kesulitan untuk bangun.</p>
<p>5. Remaja seakan-akan hidup untuk bersenang-senang dan merasakan keseruan</p>
<p>Pubertas dan perubahan otak pada remaja memotivasi remaja untuk mencari pengalaman dan kesenangan.</p>
<p>Pemahaman mengenai perkembangan otak remaja memungkinkan orangtua, guru, dan orang dewasa lainnya memahami dan mengantisipasi tingkah laku remaja yang kadang tampak tidak masuk akal, dramatis, berlebihan, emosional, dan berbahaya. Masa ini pada dasarnya merupakan transisi dan jendela menuju dunia yang lebih kompleks. Remaja membutuhkan orang dewasa yang sehat sekaligus perhatian untuk menyediakan lingkungan yang suportif. Orang dewasa dapat mengambil peran aktif untuk menyediakan lingkungan yang memberi kesempatan untuk : latihan membuat keputusan, mengembangkan keterampilan baru, mencari sensasi / petualangan yang sehat, mengambil risiko secara sehat dan berimbang, menghabiskan waktu secara berkualitas, serta memberi contoh mengenai pola hidup yang sehat.</p>
<p>Pola komunikasi yang asertif (terbuka, berimbang &amp; saling mendengarkan) akan lebih efektif dibanding pola komunikasi satu arah. Akan lebih baik jika pola komunikasi ini sudah diterapkan sejak dini. Namun secara khusus untuk orangtua dengan anak remaja, ada baiknya orangtua “turun gunung”, mencoba mengenal dan memahami dinamika kehidupan mereka. Pada masa ini, semakin kita dapat menempatkan posisi secara seimbang / setara dengan mereka, mereka akan lebih merasa dihargai. Sebaliknya, memperlakukan mereka seperti lebih rendah, lebih tidak mampu atau belum mengerti dapat berpotensi menimbulkan konflik. Pada dasarnya mereka merasa sudah mulai dewasa, mampu dan kompeten untuk mengatur hidupnya. Karena itu cara menempatkan diri sebagai figur otoritas (orangtua) perlu diperhatikan secara seimbang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>With love,</p>
<p>Rini H.S.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>REFERENSI</strong></p>
<p>Brown, B.B. &amp; Prinstein, M.J. (2011). <em>Encyclopedia of Adolescence.</em> London : Elsevier.</p>
<p>Chamberlain, L.B. (n.d.). <em>The Amazing Adolescent Brain: What Every Educator, Youth Serving Professional, and Healthcare Provider Needs to Know. </em>Philadelphia : Institute for Safe Families</p>
<p>Papalia, D.E., Olds, S.W., &amp; Feldman, R.D. (2007). <em>Human Development, 10<sup>th</sup> ed.</em> New York : McGraw-Hill.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://enlightmind.com/otak-remaja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Baby Blues &#038; Postpartum Depression</title>
		<link>https://enlightmind.com/baby-blues-postpartum-depression/</link>
					<comments>https://enlightmind.com/baby-blues-postpartum-depression/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[enlightmind]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2016 18:03:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://enlightmind.com/?p=1885</guid>

					<description><![CDATA[Proses kehamilan, melahirkan dan memiliki anak merupakan salah satu peristiwa yang signifikan bagi seorang perempuan. Dalam proses itu tidak hanya status yang berubah, namun tubuh, kondisi psikologis, hormon pun ikut jungkir balik. Karena itu kelahiran anak disebut sebagai proses transisi yang berpotensi menimbulkan stres sekaligus membahagiakan (DeGenova, 2008). Kelahiran anak juga membawa perubahan dalam konsep [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Proses kehamilan, melahirkan dan memiliki anak merupakan salah satu peristiwa yang signifikan bagi seorang perempuan. Dalam proses itu tidak hanya status yang berubah, namun tubuh, kondisi psikologis, hormon pun ikut jungkir balik. Karena itu kelahiran anak disebut sebagai proses transisi yang berpotensi menimbulkan stres sekaligus membahagiakan (DeGenova, 2008). Kelahiran anak juga membawa perubahan dalam konsep diri, peran sosial, dan hubungan dengan pasangan. Belum lagi terdapat tuntutan untuk mengasuh bayi sehingga <em>mommies</em> harus beradaptasi dalam menyeimbangkan peran sebagai ibu dengan peran-peran lainnya, misalnya dalam pekerjaan dan mengurus rumah tangga (Boyce, 2003).</p>
<p>Kita masing-masing mungkin sudah mengalami atau pernah mendengar cerita &amp; curhatan teman tentang lelahnya mengurus bayi. <em>Zombi mode on</em>, kalau kata orang-orang. Kurang tidur sudah jadi keluhan setiap orangtua baru. Tapi di antara cerita itu mungkin kita juga pernah mendengar orang mengatakan <em>“Ibu itu stres tu sampai tidak mau menggendong anaknya”, “Kok begitu ya sama anak sendiri”, “Ibu itu punya anak bukannya bahagia &amp; bersyukur malah menangis-nangis &amp; tidak mau mengurus anaknya”………… </em>bahkan kita juga pernah mendengar kisah ibu yang membunuh bayinya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? Memiliki anak tentunya sebuah berkat, tapi jika kita / orang di sekitar kita mengalami beberapa hal di atas, apakah iya hal itu terjadi karena mereka kurang bersyukur?</p>
<p>Perubahan dalam peristiwa kelahiran anak pada dasarnya <strong>begitu signifikan</strong> sehingga belum tentu dapat diantisipasi dan diatasi oleh setiap orang pasca melahirkan. Kombinasi dari perubahan hormon yang mendadak, rasa sakit yang dialami saat melahirkan, dan kehadiran bayi dapat mengubah hubungan, ide, rencana, dan ekspektasi yang sudah ada sebelumnya (Boyce, 2003). Seiring berjalannya waktu, sebagian individu dapat menyesuaikan diri, namun sebagian lagi tidak. Hal ini dapat memicu terjadinya <strong><em>mood disorder</em></strong> pasca melahirkan. Masa 3 bulan pertama pasca melahirkan adalah masa yang kritis. Pada masa ini risiko untuk mengalami gangguan psikologis meningkat. <strong>Hampir 85%</strong> perempuan mengalami <em>mood disorder</em> pada masa pasca melahirkan (Cohen &amp; Nonacs, 2005). Dapat dikatakan keluhan dan rasa tidak nyaman secara psikologis pada masa ini <strong>adalah</strong> <strong>wajar</strong>.</p>
<p><em>Mood disorder</em> pasca melahirkan terdiri dari 3 tipe : (1) <em>postpartum blues (baby blues) </em>dengan persentasi 50% &#8211; 85% dari populasi; (2) <em>postpartum depression </em>dengan persentasi 10% &#8211; 15%; (3) <em>postpartum psychosis </em>dengan persentasi 0,1% &#8211; 0,2%.</p>
<ul>
<li><em>Postpartum blues </em>ditandai dengan <em>mood</em> yang berubah-ubah, sering menangis, dan kecemasan. Gejala ini wajar dialami pada bulan pertama pasca melahirkan.</li>
<li><em>Postpartum depression</em> ditandai dengan gejala yang lebih intens, yaitu <em>mood</em> depresif, kecemasan yang ekstrem, dan insomnia. Diagnosis ini ditegakkan jika gejala berlangsung dalam jangka waktu 1 sampai 12 bulan pasca melahirkan</li>
<li>Pada <em>postpartum psychosis, </em>muncul gejala mudah terganggu, meledak-ledak, <em>mood</em> depresif atau berubah-ubah, waham yang tidak realistis, dan tingkah laku yang tidak terorganisasi (Cohen &amp; Nonacs, 2005). Diagnosis ini ditegakkan jika gejala berlangsung lebih dari 12 bulan.</li>
</ul>
<p>Pada dasarnya ketiga jenis <em>mood disorder</em> pasca melahirkan ini merupakan sebuah kontinum. <em>Postpartum blues </em>yang tidak dapat diatasi dengan baik, dapat mengarah kepada terjadinya <em>postpartum depression, postpartum depression </em>yang berkelanjutan dan semakin parah akan mengarah kepada terjadinya <em>postpartum psychosis </em>(Cohen &amp; Nonacs, 2005)<em>. </em></p>
<p><em>Postpartum Depression</em> tergambar dalam penuturan Brooke Shields dalam bukunya <em>My Journey through Postpartum Depression</em>. Pada awalnya Shields merasa bahwa yang ia rasakan adalah bentuk kelelahannya, tetapi bersamaan dengan itu, timbul pula rasa panik berlebihan setiap kali sang suami menyerahkan anaknya kepadanya. Shields juga mengalami perasaan terbuang, tidak ingin bergerak atau melakukan apapun. Shields menuliskan bahwa ia tidak sekedar sedang merasa emosional atau sedih, seperti yang dikatakan orang-orang. Dalam kesempatan lain Shields mengungkapkan bahwa dirinya pernah membayangkan dirinya lompat dari jendela apartemennya (Shields, 2007).</p>
<p>Gejala depresi pada wanita dengan <em>Postpartum Depression</em> akan mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut akan berpengaruh terhadap interaksi individu dengan orang lain di sekitarnya, terutama anaknya. Salah satu interaksi yang paling mendasar antara ibu dan anak pasca melahirkan adalah menyusui. Menyusui bukanlah hal yang mudah. Beberapa wanita mengalami kesulitan dalam menyusui. Kesulitan tersebut dapat berupa rasa sakit pada puting saat menyusui, kelelahan, ASI yang kurang lancar / tidak keluar, dan kecemasan mengenai menyusui itu sendiri. Kesulitan dalam menyusui dapat meningkatkan risiko depresi.</p>
<p>Walau menyusui merupakan salah satu faktor risiko, menyusui juga memiliki manfaat bagi kondisi psikologis ibu. Penelitian oleh Mezzacappa dan Katkin (2002) mengungkapkan bahwa <strong>menyusui secara langsung</strong> memiliki asosiasi yang lebih besar dengan penurunan <em>mood</em> negatif daripada menyusui dengan botol. Menyusui dapat mengurangi stres dan memberi ketenangan pada ibu. Ketenangan yang dirasakan ibu saat menyusui sebagian besar diatur oleh <strong>hormon <em>oxytocin</em></strong> (Riordan, 2005) Kegiatan menyusui juga dapat mengurangi stres yang dialami bayi dari ibu yang mengalami depresi. Dengan kata lain, menyusui dapat melindungi anak dari efek negatif dari ibu yang mengalami depresi (Kendal-Tackett, et.al., 2007).</p>
<p>Efek positif menyusui terhadap kesehatan mental ibu juga tergambar dalam pengalaman Brooke Shields saat menyusui. Shields mengungkapkan bahwa dirinya merasa seperti menenggak obat penenang, dan selama sesaat ia merasa nyaman saat sedang menyusui. Bagi Shields memberi ASI adalah satu-satunya hal yang membuatnya unik dalam hal perawatan anaknya, dan menyusui menciptakan sebuah keterikatan yang tidak terbantahkan, meskipun itu hanyalah sebuah hubungan fisik. Jika tidak menyusui, ia merasa akan kehilangan anaknya selamanya. Jika terus menyusui, sedikit demi sedikit ia marasa terikat kepada darah dagingnya sendiri (Shields, 2007). Dalam bukunya tergambar bahwa walau dalam keadaan depresi, Shields merasakan manfaat menyusui. Menyusui memberikan rasa nyaman dan memberi harapan bahwa dirinya dapat membangun <em>attachment</em> dengan anaknya sendiri.</p>
<p>So, setelah memahami mengenai <em>baby blues &amp; postpartum depression</em>, apa yang dapat kita lakukan untuk mempersiapkan diri / mengatasi hambatan-hambatan sebagai ibu / orangtua baru?</p>
<ol>
<li><strong>Tetaplah menyusui!</strong> Pada masa sekarang, menyusui sudah sangat digalakkan oleh Kementrian Kesehatan, institusi kesehatan, dan tenaga medis. Bahkan ibu-ibu menyusui bisa ikutan galak untuk mengkampanyekan hal ini. Tetaplah menjadi pejuang ASI walau kadang payudara mampet, sakit, dan puting lecet. Dalam hal ini menyusui secara langsung memiliki manfaat psikologis paling besar. Bagi ibu bekerja usahakan menyusui secara langsung saat memiliki kesempatan untuk bersama dengan bayinya. Tatap, peluk, dan belai anak anda selama proses tersebut.</li>
<li>Bentuklah <strong><em>support system</em></strong> untuk diri kita sendiri. Identifikasi orang-orang &amp; fasilitas apa saja yang mungkin akan membantu kita dalam mengasuh anak. Kerja sama antara suami-istri juga sangat perlu. Katanya <strong><em>two is better than one</em></strong> ~ ini saatnya suami dan istri mewujudkan janji manis saat menikah, jatuh bangun bersama mengurus anak. Suami perlu memberdayakan diri dan terlibat langsung dalam pengasuhan anak. Caranya pun bervariasi, mulai dari menata ulang jadwal kegiatan kita &amp; pasangan, menyusun rencana kerja alternatif (kerja dari rumah, kerja <em>freelance</em>, dsb), membuat giliran jaga anak, meminta bantuan dari orangtua, pengasuh, ART, <em>daycare</em>, katering, dsb. Apapun yang dirasa membantu, lakukanlah.</li>
<li><strong>Maafkan diri anda sendiri</strong>. Menjadi orangtua adalah proses, kita berusaha, kita belajar, kadang kita melakukan kesalahan / mengalami kegagalan.titik. <strong><em>Let it go</em></strong>, yang kita rasa kurang tepat dapat kita perbaiki di hari esok. Kalau hari ini ASI belum keluar, besok kita berusaha lagi. Anak menangis, rewel, sakit, ya memang sudah wajar akan terjadi, setelah itu ia akan tertawa lagi.</li>
<li><strong>Seimbangkan aktivitas</strong>. Orang sering menyebutnya sebagai &#8220;me-time&#8221;, saya pribadi kurang suka menggunakan istilah itu karena terkesan dilebih-lebihkan. <em>Me-time</em> tidak perlu heboh, tidak perlu menghabiskan waktu seharian di spa atau liburan ala artis di Maldives. Variasikan aktivitas anda sehari-hari. Tentunya terus-menerus menghabiskan waktu bersama anak bisa membuat jenuh. Melakukan <em>baby talk </em>sepanjang hari juga dapat melelahkan bagi orang dewasa. Carilah aktivitas / hal-hal kecil yang menyenangkan seperti membaca (artikel ini :P), makan keluar, berendam di air hangat, cek Instagram, nonton video di Youtube atau sekedar bengong-bengong sambil makan es krim saat anak tertidur. Gunakan berbagai kesempatan untuk istirahat, luangkan waktu untuk olahraga, mengobrol dengan teman, berdiskusi dengan pasangan, memasak, atau apa pun. Intinya adalah membuat variasi aktivitas yang seimbang dalam keseharian anda.</li>
<li><strong>Cari bantuan</strong>. Saat semua terasa berat, rasa lelah, marah, sedih, kecewa, cemas, dsb sudah dirasa sulit diatasi sendiri, cari bantuan. Bicaralah dengan pasangan, orang terdekat, atau cari bantuan profesional seperti psikolog, konselor, dsb. Kadang diri kita sendiri yang menghalangi diri kita untuk mencari bantuan, kadang rasa malu, kadang rasa bersalah : pemikiran “saya sudah diberi anak oleh Tuhan, kok saya begini….”. Seperti yang sudah dituliskan di atas, keluhan dan rasa tidak nyaman secara psikologis pada masa ini adalah wajar. <em>When you feel it, then it is real.</em></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>With love,</p>
<p>Rini H.S.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>REFERENSI</strong></p>
<p>Boyce, P.M. (2003). <em>Risk Factors for Postnaal Depression : A Review and Risk Factors in Australian Populations</em>. May 9, 2003. Department of Psychological Medicine, University of Sydney, Nepean Hospital. <a href="http://proquest.umi.com/pqdweb">http://proquest.umi.com/pqdweb</a></p>
<p>Cohen, L.S. &amp; Nonacs, R.M, (ed.). (2005). <em>Mood and Anxiety Disorder During Pregnancy and Postpartum. </em>Arlington : American Psychiatric Publishing, Inc.</p>
<p>DeGenova, M.K. (2008). <em>Intimate Relationship, Marriage, and Families, 7<sup>th</sup> edition</em>. New York : McGraw-Hill.</p>
<p>Kendal-Tackett,K., Duffy, L., Zollo, L., Geck, L., Holmes, A., Dodge, J., &amp; Porter, J.S. (2007). <em>A Breastfeeding-Friendly Approach to Depression in New Mothers : A Curriculum and Resource Guide for Health Care Providers.</em> <a href="http://nhbreastfeedingtaskforce.org/">http://NHBreastfeedingTaskForce.org/</a></p>
<p>Mezzacappa,E.S. &amp; Katkin, E.S. (2002). <em>Breast-feeding Is Associated With Reduced Perceived Stress and Negative Mood in Mothers</em>. <em>Journal of Health Psychology, </em>vol. 2, no. 2, 187-193, 2002. <a href="http://jstor.org/">http://jstor.org/</a></p>
<p>Riordan, J. (2005). <em>Breastfeeding and Human Lactation, 3<sup>rd</sup> edition</em>. Sadbury : Jones and Bartlett Publishers, Inc.</p>
<p>Shields, B. (2007). <em>My Journey through Postpartum Depression</em> : Kisah Nyata Sang Bintang Melawan Depresi Pasca Melahirkan. Bandung : Qanita.</p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://enlightmind.com/baby-blues-postpartum-depression/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mindful Parenting</title>
		<link>https://enlightmind.com/mindful-parenting/</link>
					<comments>https://enlightmind.com/mindful-parenting/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[enlightmind]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2016 02:12:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://enlightmind.com/?p=1879</guid>

					<description><![CDATA[Menjadi orangtua adalah salah satu peran yang paling sulit &#38; membingungkan bagi kebanyakan orang, termasuk bagi saya sendiri. Semasa sekolah &#38; kuliah tidak pernah ada pelajaran / kelas untuk menjadi orangtua. Tidak pernah dan tidak akan ada buku manual baku mengenai bagaimana menjadi orangtua yang baik karena pada dasarnya mengasuh anak adalah pengalaman &#38; aktivitas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi orangtua adalah salah satu peran yang paling sulit &amp; membingungkan bagi kebanyakan orang, termasuk bagi saya sendiri. Semasa sekolah &amp; kuliah tidak pernah ada pelajaran / kelas untuk menjadi orangtua. Tidak pernah dan tidak akan ada buku manual baku mengenai bagaimana menjadi orangtua yang baik karena pada dasarnya mengasuh anak adalah pengalaman &amp; aktivitas yang <strong>subjektif</strong> yang dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal dari masing-masing individu (Barbieri, n.d.). Konteks pengasuhan anak di Indonesia juga cenderung luas, karena melibatkan pihak lain selain keluarga inti, seperti Kakek, Nenek, Om, Tante, Saudara, Teman, Asisten Rumah Tangga, bahkan Tetangga. Kemajuan teknologi dan informasi juga membuat situasi lebih kompleks dengan adanya forum, artikel, blog, figur di media sosial, dsb, yang kadang membuat orangtua semakin bingung.</p>
<p>Kesibukan dan rutinitas sebagai orangtua juga mengubah rutinitas dan gaya hidup kita sehari-hari sehingga kadang interaksi dengan anak terasa seperti “<em>auto-pilot</em>”, mulai dari aktivitas menyusui, memandikan, mengganti popok, menenangkan anak yang sedang menangis, belum lagi harus bekerja, membereskan rumah, memasak, membetulkan keran yang bocor, mengantar anak sekolah, pergi belanja, dll, dll… Setiap hari berlalu begitu saja tanpa terasa. Lalu pertanyaan besarnya, apakah saya sudah menjadi orangtua yang baik untuk anak saya?</p>
<p>Dalam kekacauan ini, muncul pendekatan <em>Mindful Parenting</em>. <em>Mindfulness </em>didasari oleh inti dari meditasi Budisme. Dengan berbagai penelitian mengenai manfaat dari meditasi, konsep <em>mindfulness </em>tidak lagi bicara mengenai meditasi melainkan sikap. <em>Mindfulness </em>berarti perhatian dari waktu ke waktu dan kesadaran akan spontanitas dari isi yang muncul tanpa usaha untuk mengubah hal tersebut. (Young, Klosko &amp; Weishar, 2003). Tiga kualitas utama dari <em>mindfulness</em> adalah : (1) Kesadaran dan perhatian pada saat ini; (2) memiliki intensi dan tujuan; (3) merupakan sikap yang merefleksikan bahwa kita hadir dengan rasa ingin tahu, ketertarikan, menerima, namun <em>non-judgmental</em>. Secara khusus, <em>Mindful Parenting </em>mendorong para orangtua untuk menjaga kesadaran dan menerima kebutuhan anak melalui praktik <em>mindfulness</em> sehingga dapat menciptakan konteks keluarga yang lebih memuaskan dalam hubungan orangtua &#8211; anak (Duncan, Coatsworth, Greenberg, 2009).</p>
<p>Barbieri menuliskan bahwa kita sebagai orangtua perlu memahami diri kita sendiri dan memiliki intensi secara jelas sebelum benar-benar melakukan pengasuhan (<em>doing of parenting</em>) terhadap anak. Dalam hal ini tugas utama kita sebagai orangtua, pertama-tama adalah mendapatkan kekuatan untuk mengendalikan dan mempertanggungjawabkan berbagai pemikiran dan perasaan kita sendiri untuk kemudian menjadi model bagi anak-anak kita. Pribadi yang <em>mindful</em> memiliki keterampilan : (1) bertindak secara sadar; (2) mengobservasi; (3) deskriptif; (4) tidak reaktif; (5) dan tidak menilai benar / salah (<em>non-judging</em>).</p>
<p>Dalam mengasuh anak, kita sebagai orangtua pastinya merasa bertanggung jawab atas perkembangan anak kita, baik secara fisik, kognitif, psikologis, emosional, dan sosial. Dalam hal ini proses mendisiplinkan anak dirasa sangat penting. Kita sebagai orangtua sangat ingin membentuk anak kita menjadi pribadi yang ideal seperti yang kita bayangkan, anak yang baik, pintar, sopan, gaul, dsb. Semua keinginan kita didasari oleh nilai-nilai yang kita yakini. Walau demikian, kita perlu mengingatkan diri kita sendiri bahwa tugas utama sebagai orangtua adalah membesarkan manusia yang sehat, bahagia, mandiri dan percaya diri sehingga kelak ia dapat menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas hidupnya (Barbieri, n.d.). Mudah dikatakan namun suliiiiit dilakukan. Walau demikian, terdapat beberapa prinsip dasar yang dapat mengarahkan kita untuk mewujudkan hal tersebut.</p>
<ol>
<li>Disiplin dimulai dari orangtua, kemudian anak</li>
</ol>
<p>Kadang kita kehabisan akal dalam usaha untuk “mengubah” tingkah laku anak. Kita menggunakan berbagai cara, kadang menghukum, memarahi, bicara dengan nada tinggi, dsb. Namun dalam mempraktikkan <em>mindful parenting</em> kita perlu belajar untuk berinteraksi dengan anak dengan tenang. Dalam hal ini orangtua harus kembali belajar mengendalikan diri. Pengendalian diri yang dimaksud <strong><u>bukan</u></strong> berarti kita menyimpan emosi &amp; uneg-uneg dan tidak mengekspresikannya. Melainkan kita menyadari pemikiran dan perasaan kita dalam konteks yang kita hadapi. Dengan kesadaran ini kita dapat lebih mengontrol tingkah laku kita.</p>
<p>Rasanya begitu abstrak, mari kita bahas dengan contoh : misalnya, kita marah karena anak lama sekali saat siap-siap berangkat ke sekolah. Dalam situasi ini kita perlu merenungkan, apa yang sebenarnya membuat kita marah? Apakah kita khawatir anak kita dihukum? Apakah kita khawatir dicap kurang peduli terhadap kegiatan sekolah anak? Apakah kita khawatir terlambat pergi ke kantor? Perasaan apa yang muncul? Cemas? Malu? Kecewa? Gali terus penyebabnya dengan pertanyaan kenapa (<em>why</em>). Percayalah emosi yang muncul pada diri kita tidak pernah disebabkan oleh orang lain melainkan oleh diri kita sendiri. Saat anda sudah menemukannya, ambil tindakan untuk mengubah hal tersebut dan tampilkan tingkah laku yang lebih efektif, seperti membicarakan hal tersebut dengan anak, membuat kesepakatan mengenai waktu bangun, waktu keberangkatan, bangun lebih pagi dari anak dan membangunkan anak dengan cara yang lebih menyenangkan dan mudah diterima anak, dan jadikan hal tersebut sebagai kebiasaan. Tingkah laku itu tentu lebih efektif dibandingkan marah-marah atau menggedor pintu kamar anak, namun pertama-tama membutuhkan ketekunan dari orangtua untuk melakukannya setiap hari.</p>
<ol start="2">
<li>Hubungan orangtua-anak harus melebihi sistem <em>reward-punishment</em></li>
</ol>
<p>Kadang orangtua cenderung menyederhanakan proses mendisiplinkan hanya dengan pemberian <em>reward &amp; punishment</em>. Saat dilakukan dengan cara yang kurang tepat, dapat menimbulkan perasaan bahwa cinta kita sebagai orangtua kepada anak bersyarat. “Wah, hebat kamu ya ranking 1, itu baru anak Papa!”, “Anak mama kan tidak cengeng yaaaa..”. Kalimat itu sering terlontar tanpa kita sadari. Apakah kalau tidak ranking 1, saya bukan anak papa? Apakah kalau saya sedih / marah / kecewa dan menangis saya bukan anak mama? Kok susah amat jadi anak mama &amp; papa?! Syarat &amp; ketentuan berlaku?</p>
<p>Dalam hal ini kita perlu spesifik dalam menyampaikan tingkah laku yang kita harapkan kepada anak. Fokus pada usaha yang dilakukan, bukan pada hasilnya. Walau bukan juara kelas, tentunya kita perlu mendampingi proses saat anak belajar, mengobrol dengan anak untuk mengetahui proses berpikirnya, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis, berikan masukan mengenai cara belajar yang lebih efektif, tanya pengalaman dan perasaan anak mengenai situasi belajar di sekolah, dan bersama-sama cari solusi untuk mengatasi kesulitan anak, tentunya hal tersebut lebih efektif. Dalam hal ini anak akan merasa lebih aman karena ia tahu dan merasakan kepedulian dari orangtuanya, bukan hanya tuntutan.</p>
<ol start="3">
<li>Proses komunikasi sangat penting</li>
</ol>
<p>Lakukan komunikasi sejak dini (bahkan sejak bayi!), ajaklah anak berbicara, pancing anak untuk merespon, tempatkan anak sebagai lawan bicara yang setara, sesuaikan diri anda dengan usia dan pemahaman anak. Menempatkan anak sebagai lawan bicara yang pasif (sebagai pihak yang harus mendengarkan &amp; menurut) akan menghambat proses komunikasi dan menimbulkan penolakan. Dalam hal ini orangtua perlu fokus pada hal yang kita inginkan dan bicaralah secara <strong><u>jelas dan spesifik</u></strong>. Ungkapkan pemikiran, perasaan dan pendapat anda mengenai suatu tingkah laku anak secara spesifik. Di sisi lain, tanyakan juga pemikiran, perasaan dan pendapatnya. Proses komunikasi tidak hanya secara verbal, namun sensitivitas kita terhadap intonasi suara, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan bahasa nonverbal lain akan membantu kita lebih memahami pesan yang disampaikan oleh anak secara lebih akurat.</p>
<ol start="4">
<li>Anak butuh cinta tanpa syarat</li>
</ol>
<p>Hal pertama yang dapat anda lakukan adalah cintailah diri anda tanpa syarat. Setelah hari yang sibuk dan berat, katakan pada diri anda, it’s ok kalau cucian masih menumpuk, it’s ok kalau tadi saya terlambat jemput anak, it’s ok kalau saya tidak sempat mandi dan menyambut suami pulang kantor dengan muka kucel, berminyak, dan daster yang bau asem, karena hari ini saya sudah melakukan yang terbaik yang saya bisa lakukan! Bebaskan diri anda dari berbagai S&amp;K, karena pribadi anda lebih luas dibandingkan semua syarat tersebut. Kalau hari ini anda berhasil bebas dari 1 syarat, lanjutkan di hari-hari berikutnya, kelak kita akan merasa lebih bebas dan nyaman dengan diri kita sendiri, &amp; pada akhirnya memiliki kemampuan untuk mencintai anak-anak kita, tanpa syarat.</p>
<ol start="5">
<li>Anak-anak, seperti orangtua, juga belajar dari kesalahan</li>
</ol>
<p>Dalam hidup sehari-hari kita bisa jadi melakukan kesalahan dan mengambil keputusan yang buruk. Hal ini tidak jarang menimbulkan kekecewaan dan konflik dalam diri maupun dengan orang lain. Berdamailah dengan kesalahan tersebut, tugas kita sebagai orangtua tidak hanya membantu anak membuat keputusan yang baik &amp; matang, namun juga menjadi <em>role-model</em> bagi anak bagaimana menghadapi kegagalan dan kekecewaan. Seperti yang sudah disampaikan di atas, berkomunikasilah secara terbuka, baik mengenai hal baik, maupun mengenai hal yang buruk. Fokus pada permasalahan dan tingkah laku, bukan pada karakter / memberi label negatif pada anak.</p>
<ol start="6">
<li>Bermainlah dengan anak</li>
</ol>
<p>Kita sebagai manusia, tidak terbebas dari masalah dan stres dalam kehidupan sehari-hari. Bertahan dalam KRL / Trans Jakarta / angkutan umum lain atau menembus kemacetan untuk sampai di kantor tepat waktu saja merupakan pencapaian yang perlu kita banggakan sebagai warga Jakarta. Kendala ini pun dihadapi oleh anak kita dalam kehidupan sehari-hari, berhadapan dengan guru, ketemu gebetan, mengerjakan PR, sampai pada menata rambut masa kini yang sempurna dapat menjadi sumber stres bagi anak. Dalam hal ini keluarga perlu kreatif dalam merencanakan aktivitas yang menyenangkan &amp; bervariasi.</p>
<p>Kegiatan bermain memungkinkan anak menggunakan kreativitasnya dalam mengembangkan imajinasi, keterampilan motorik, fisik, kognitif, dan emosional. Dalam bermain, anak mengeksplorasi dan belajar menguasai keterampilan tertentu, kadang memainkan peran sebagai orang lain / orang dewasa sehingga mereka dapat memahami sudut pandang berbeda. Dalam permainan kelompok, anak juga seperti berada dalam simulasi untuk berbagai, bernegosiasi, menyelesaikan konflik dan bersosialisasi. Di sisi lain hal ini juga merupakan sarana untuk mengekspresikan emosi dan stres.</p>
<ol start="7">
<li>Hubungan (<em>relationship</em>) sebagai hal yang paling penting</li>
</ol>
<p>Pada akhirnya, hubungan kita dengan anak adalah yang paling utama. Anak belajar dari orangtua mengenai struktur dalam keluarga, bagaimana mengekspresikan emosi, bagaimana kita menunjukkan perhatian dan kasih sayang, bagaimana kita belajar dan menghadapi kegagalan. Berbeda dengan orang dewasa, anak memiliki potensi kemungkinan yang tidak terbatas yang mungkin tidak dapat dibayangkan oleh kita saat ini. Idealisme orangtua kadang justru membatasi potensi tersebut. Karena itu membangun relasi yang harmonis, penuh kasih sayang, dan kepercayaan lebih penting daripada merencanakan secara detil masa depannya, menetapkan target-target yang harus dicapai atau berdebat mengenai apa yang baik / buruk bagi anak. Sebagai orangtua kita kadang perlu belajar untuk melepaskan diri dan memandang anak sebagai pribadi yang mampu menjalani hidup sesuai dengan usia &amp; tahap perkembangannya. Pada akhirnya kita perlu memilih dan menyesuaikan metode pengasuhan dengan nilai-nilai pribadi kita, namun dengan mempertimbangkan pola, kebutuhan, perkembangan dan respon anak. Relasi yang sehat membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dijalani <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>With <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/2764.png" alt="❤" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />,</p>
<p><span style="line-height: 1.5;">Rini H.S.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong style="line-height: 1.5;">REFERENSI</strong></p>
<p>Young, J.E, Klosko, J.S, &amp; Weishar, M.E. (2003). S<em>chema Therapy : A Practitioner’s Guide.</em> New York : The Guilford Press.</p>
<p>Barbieri, C. (n.d.). Seven Important Aspects of Mindful Parenting. Diunduh dari <a href="http://www.waldorfearlychildhood.org">http://www.waldorfearlychildhood.org</a></p>
<p>Duncan, L.G., Coatsworth, J.D., &amp; Greenberg, M.T. (2009). <em>A Model of Mindful Parenting: Implications for Parent–Child Relationships and Prevention Research</em>. Diunduh dari <a href="http://www.prevention.psu.edu">http://www.prevention.psu.edu</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://enlightmind.com/mindful-parenting/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Intimate Partners?</title>
		<link>https://enlightmind.com/intimate-partners/</link>
					<comments>https://enlightmind.com/intimate-partners/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[enlightmind]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2016 03:28:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://enlightmind.com/?p=1854</guid>

					<description><![CDATA[Pernah dengar istilah HTS? Sekarang ini, penggunaan istilah HTS seringkali digunakan oleh banyak orang untuk menjelaskan konsep hubungan tanpa status. Apa sih hubungan tanpa status itu? Maksudnya, hubungan antara dua orang yang kelihatannya sih sudah dekat, seperti orang pacaran, namun statusnya masih belum pacaran. Kalau zaman saya dulu, istilah kerennya adalah TTM atau “Teman Tapi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pernah dengar istilah HTS? Sekarang ini, penggunaan istilah HTS seringkali digunakan oleh banyak orang untuk menjelaskan konsep hubungan tanpa status. Apa sih hubungan tanpa status itu? Maksudnya, hubungan antara dua orang yang kelihatannya <em>sih</em> sudah dekat, seperti orang pacaran, namun statusnya masih belum pacaran. Kalau zaman saya dulu, istilah kerennya adalah TTM atau “Teman Tapi Mesra”. Tapi kalau saya pakai kata-kata TTM ke remaja-remaja yang konseling dengan saya, seringkali saya dibilang <em>norak</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin jauh, penjelasan tentang hubungan tanpa status terus berkembang dengan penggunaan istilah-istilah seperti PHP atau “Pemberi Harapan Palsu”. Individu yang mendapat gelar PHP disinyalir sebagai orang yang suka ‘menggantungkan’ hubungan atau ‘pemelihara’ fans. Sedangkan, individu yang bukan PHP seringkali dibuat <em>baper</em> oleh para individu PHP.</p>
<p style="text-align: justify;">Istilah lain yang saya temukan dari proses konseling adalah istilah KKG atau “kakak ketemu gede”. Maksudnya, dua individu (kebanyakan yang sudah punya pacar) memiliki hubungan persahabatan yang sangat dekat, yang bisa dibilang seperti kakak-beradik. Jadi, pacar mereka tidak bisa marah atau cemburu dengan hubungan mereka, karena hubungan mereka sejatinya sudah seperti hubungan darah.</p>
<p style="text-align: justify;"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignleft wp-image-1857 size-full" src="https://enlightmind.com/wp-content/uploads/2016/09/imagesa.jpg" width="259" height="194" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, hubungan yang terjalin dalam HTS dan ‘kakak ketemu gede’ itu bisa dibilang sebagai hubungan intim atau tidak sih? Untuk membuka penjelasan, mungkin bisa dimulai dari pertanyaan ini: “<em>D</em><em>o </em><em>people </em><em>understand about the nature of intimacy?</em><em>”. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Apa <em>sih</em> yang mendasari ‘keintiman´atau <em>intimacy</em> itu? Apa yang membuat kita bisa dibilang punya hubungan yang intim dengan orang lain?</p>
<p style="text-align: justify;">Perbedaan antara hubungan intim dengan hubungan lain bisa dilihat dari beberapa hal. Yang pertama, pasangan yang ada dalam hubungan intim biasanya memiliki pengetahuan atau <strong><em>knowledge</em></strong><em> </em>yang lebih banyak tentang pasangan mereka dibandingkan orang lain. Mereka berbagi informasi mengenai sejarah kehidupan, preferensi, perasaan, dan keinginan yang biasanya tidak akan mereka bagi ke orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti misalnya, saat seseorang lebih banyak bercerita kepada pacar mereka dibandingkan orang lain. Atau mungkin, lebih banyak bercerita kepada ‘teman tapi mesra’ atau ‘kakak ketemu gede’ dibandingkan orang lain. Mereka bisa bercerita tentang pengalaman hidup sejak kecil, hobi, hal yang disuka, orang yang dibenci, kekesalan kepada orangtua, atau hal-hal lainnya yang tidak selalu mereka sampaikan kepada orang lain. Pengetahuan yang lebih akan tiap pasangan ini merupakan salah satu faktor yang mendeteksi keintiman antara satu orang dengan orang lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain <em>knowledge</em>, hal lain yang juga bisa melihat derajat keintiman adalah <strong><em>caring</em></strong>. Tau <em>caring? </em>Kalau diartikan ke dalam Bahasa Indonesia artinya peduli atau perhatian. Pasangan yang ada dalam hubungan intim biasanya <strong>peduli tentang satu sama lain, mereka punya perhatian yang lebih kepada pasangannya dibandingkan ke orang lain</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini bisa menjelaskan mengapa terkadang seseorang yang berada dalam hubungan pacaran suka bertanya tentang hal-hal yang dianggap ‘ngga penting’ oleh orang lain seperti “kamu lagi apa?”, “udah makan belum?”, atau memberi informasi seperti “aku baru berangkat”, “aku mau tidur”, “aku makan nasi”, &#8220;aku masuk kamar mandi&#8221;, &#8220;aku keluar dapur&#8221; dan sederet informasi lainnya yang terkesan ‘cetek’.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>But did you know? It matters for them who</em> <em>engage in that relationship, because they care for each other and want to have a lot of knowledge about their partners, even the smallest one, the unnecessary things that they don’t share with other peopl</em></strong><strong><em>e</em></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak hanya hal-hal kecil, pasangan yang ada dalam hubungan intim juga peduli dan peka terhadap perasaan pasangannya. Semakin mereka percaya bahwa pasangannya tahu, mengerti, dan menghargai mereka, maka tingkat keintiman diantara pasangan tersebut pasti akan meningkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ke tiga, <strong><em>interdependence</em></strong>. Apa <em>sih</em> <em>interdependence</em>? <em>Interdependence</em> bisa dijelaskan sebagai kondisi dimana <strong>apa yang dilakukan oleh salah satu orang memengaruhi orang yang lainnya</strong>, bisa dibilang seperti ketergantungan atau saling berpengaruh. Pengaruh ini bisa dibilang intim kalau sering kali terjadi (seringkali saling mempengaruhi), kuat (punya efek yang mendalam untuk satu sama lain), beragam (pengaruhnya bisa muncul dalam berbagai cara), dan lama (saling mempengaruhi untuk waktu yang lama).</p>
<p style="text-align: justify;">Misalnya, seseorang memiliki pacar yang mengatakan kalau dia sangat suka dengan perempuan yang bisa melakukan kayang. Pernyataan dari pacar tersebut lantas memengaruhi pikiran orang itu dan membuatnya mulai memelajari senam lantai agar bisa melakukan kayang (mungkin <em>ngga sih</em>?, mungkin saja!). Ngga mungkin <em>kan</em> kalau yang mengatakan sangat suka dengan perempuan yang bisa kayang itu tetangga sebelah rumah, lalu kita mulai belajar senam lantai agar bisa kayang? (<em>well</em>, kecuali kalau ternyata tetangganya memang pasangannya). <strong><em>We choose a person who significant to us. Just the one that have an intimate relationship with you that can affect your thought and behavior</em>.</strong><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><img decoding="async" class="size-medium wp-image-1856 alignright" src="https://enlightmind.com/wp-content/uploads/2016/09/happy_couple-300x200.jpg" alt="happy_couple" width="300" height="200" srcset="https://enlightmind.com/wp-content/uploads/2016/09/happy_couple.jpg 300w, https://enlightmind.com/wp-content/uploads/2016/09/happy_couple-272x182.jpg 272w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /> </strong>Yang ke empat adalah <strong><em>mutuality</em></strong>. Maksud dari <em>mutuality</em> di sini adalah kelekatan. Orang yang ada dalam hubungan intim seringkali <strong>menganggap diri mereka sebagai ‘pasangan’, bukan dua individu yang terpisah</strong>. Pasangan yang ada dalam hubungan intim seringkali melihat diri mereka sebagi “kami” dibandingkan “saya” atau “dia”. Pandangan yang berubah dari “saya” menjadi “kami” ini juga bisa menjadi tanda bahwa individu tersebut sudah merasakan adanya kelekatan dengan pasangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain yang sudah dijelaskan sebelumnya, hal lain yang juga bisa membuat suatu hubungan dikatakan intim adalah adanya <strong><em>trust</em></strong>. Jika hanya dilihat dari katanya, <em>trust </em>biasa diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai ‘percaya’ sehingga kesannya lebih mengarah pada keyakinan. Padahal, <em>trust</em> yang dijelaskan di sini berbeda, <em>trust</em> adalah <strong>ekspektasi atau harapan bahwa pasangan saya akan memperlakukan saya dengan baik dan adil</strong>. <em>Trust</em> terbentuk saat orang berharap hubungannya akan baik-baik saja dan berharap bahwa pasangannya akan memberikan apa yang mereka butuhkan serta peduli terhadap kesejahteraan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan memiliki harapan bahwa hubungannya baik-baik saja atau dengan adanya harapan akan kesejahteraan dalam hubungannya, setiap individu tentu akan berusaha untuk membentuk <em>knowledge, caring, interdependence</em>, dan <em>mutuality </em>dalam hubungan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi jika mau kita rangkum, keintiman dalam suatu hubungan dapat dilihat dari <em>knowledge, caring, interdependence, mutuality, &amp; trust </em>yang ada dalam hubungan tersebut. Walaupun begitu, masih ada satu hal lagi yang perlu dimunculkan dalam suatu hubungan, yaitu <strong><em>commitment</em></strong>. Keberlangsungan hubungan yang intim memerlukan komitmen dari setiap individunya. Komitmen mengenai hubungan terbentuk saat setiap orang di dalam hubungan <strong>memiliki tujuan untuk menjaga keberlanjutan hubungan mereka</strong>, dengan adanya komitmen, setiap individu akan <strong>rela untuk menginvestasikan waktu, usaha, dan sumber daya yang mereka butuhkan untuk mencapai tujuan tersebut</strong>. Tanpa komitmen, pasangan yang sudah dekat bisa saja semakin menjauh dan merasa semakin tidak saling mempengaruhi atau tidak saling mengetahui lagi antara satu sama lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun demikian, <em>none of these components is absolutely required for intimacy to occur</em>, <em>and each may exist when the others are absent</em>. Kemunculan atau ketidakmunculan dari komponen inilah yang nantinya akan menentukan derajat keintiman dalam suatu hubungan. Idealnya, komponen-komponen ini berjalan beriringan dan seimbang, tapi dalam kenyataannya, tidak ada satu batasan mutlak untuk menjelaskan kualitas keintiman dalam suatu hubungan. Semuanya tetap bergantung dari penghayatan masing-masing individu yang memandang keintiman dalam hubungan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, kembali ke pertanyaan tentang derajat keintiman ‘hubungan tanpa status’ dan ‘kakak ketemu gede’, sebenarnya, kita bisa menggunakan penjelasan tentang <em>the nature of intimacy</em> sebagai sarana untuk menganalisis dan berpikir, apa sudah intim?. Apa benar pacar saya adalah orang yang paling intim dengan saya? Atau justru, ‘teman tapi mesra’ dan  ‘kakak ketemu gede’ yang lebih intim dengan saya? <em>Is there anything wrong? Or everything is alright?</em> Hayo yang mana?</p>
<p style="text-align: justify;">Regards,</p>
<p style="text-align: justify;">Pradina.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://enlightmind.com/intimate-partners/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bisa Bikin Saya Gak Inget Dia Lagi ?</title>
		<link>https://enlightmind.com/bisa-bikin-saya-gak-inget-dia-lagi/</link>
					<comments>https://enlightmind.com/bisa-bikin-saya-gak-inget-dia-lagi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[enlightmind]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Sep 2016 16:43:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://enlightmind.com/?p=1827</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Alvieni Angelica Special request ini paling sering datang ke tempat praktek. Bukan cuma milik para ABG yang baru patah hati tapi juga kaum tua yang hatinya tersakiti. Memang dilema banget jadi hippocampus; si penyimpan memori di otak. Kalo terlalu keren kerjanya suka gak diinginkan. Kalo males-malesan juga suka kena omel. Tapi, kembali lagi ke [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh: Alvieni Angelica</strong></p>


<p style="text-align: justify;"><em>Special request </em>ini paling sering datang ke tempat praktek. Bukan cuma milik para ABG yang baru patah hati tapi juga kaum tua yang hatinya tersakiti. Memang dilema <em>banget </em>jadi <em>hippocampus</em>; si penyimpan memori di otak. Kalo terlalu <em>keren </em>kerjanya suka <em>gak </em>diinginkan. Kalo <em>males-malesan</em> juga suka kena <em>omel</em>. Tapi, kembali lagi ke masalah utama, jadi bisa <em>gak ?</em></p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin kalau saat itu kita sedang ada di film <em>Men in Black</em> bisa pinjam <em>neuralizer-</em>nya <em>agent </em>K buat hapus memori. Sayangnya saat bersekolah dulu alat itu <em>gak </em>ada. Tapi sekelompok <em>neuroscientist</em>  Belanda (mungkin korban patah hati juga) tahun 2013 lalu menemukan alat yang disebut <em>electroconvulsive therapy (ECT). </em> Alat ini menggunakan listrik untuk memberi kejut pada otak sehingga bisa melemahkan ingatan pada satu episode memori.  Tapi ya tentunya pakai acara <em>kejang</em> karena dilistrik, itupun bukan hilang 100%, cuma jadi tidak ingat detail.</p>
<p style="text-align: justify;"><img decoding="async" class="wp-image-1828 alignright" src="https://enlightmind.com/wp-content/uploads/2016/09/Neuralizer-247x300.jpg" alt="Neuralizer-Memory Zipping" width="191" height="232" srcset="https://enlightmind.com/wp-content/uploads/2016/09/Neuralizer-247x300.jpg 247w, https://enlightmind.com/wp-content/uploads/2016/09/Neuralizer.jpg 324w" sizes="(max-width: 191px) 100vw, 191px" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau direnungkan lagi, sebenarnya yang mau dihilangkan itu memori atau kandungan emosi yang menyertai memori ya? Saya selalu bilang bahwa memori itu ibarat stiker tapi kandungan emosi yang menyertai memori itu ibarat kantong di balik stiker. Kalau memorinya positif, isi kantongnya menyenangkan. Tapi kalau memorinya negatif, isi kantong itu ibarat nanahnya jerawat. Membuat kita meradang di waktu yang tak tentu.  Maka yang membuat kita menderita adalah emosi kita sendiri sebagai respon terhadap peristiwa yang lalu. Pemicunya ialah pikiran kita yang bergerak liar ke masa lalu selanjutnya mencemaskan masa depan. Singkat kata, dalam kondisi seperti ini kita sedang tidak hidup di sini kini. Yang lebih melelahkan lagi, memori itu terus mengaktifkan sistem saraf <em>sympathetic</em> yang menyiapkan tubuh seseorang pada kondisi <em>fight, flight</em> or <em>freeze.</em> Semua otot tegang, tidur pun tak nyenyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada banyak terapi yang bisa dilakukan buat membantu menghadapi rasa tidak nyaman. Efektivitasnya di tiap orang berbeda-beda. Terapi-terapi ini umumnya membantu otak dan tubuh melakukan <em>adjustment </em>terhadap memori tersebut. Lalu, berapa kali ya sampai bisa hilang ? Nah itu juga pertanyaan yang seringkali terdengar. Tiap orang berbeda-beda tergantung akar permasalahannya. Yang pasti, kesediaan menerima rasa yang ada juga menjadi salah satu syarat penting bagi seseorang untuk bisa membantu dirinya sendiri. Semakin tidak menginginkan semakin lekat di ingatan. Lalu setelah terapi-terapi ini dilakukan sudah tidak ingat lagi ya ? Wah <em>amnesia </em>dong ! Dipastikan masih ingat, hanya saja daya kontrolnya terhadap rasa kita berkurang. Tapi itu pun tidak selalu bisa dipastikan, karena semua kembali ke <em>free will</em> tiap orang. Kalo hobinya ungkit-ungkit ya <em>so </em>pasti rasa <em>gak </em>nyamannya<em> nempel </em>terus kayak perangko.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, yang bisa menentukan juga adalah, kemauan seseorang untuk melatih pikiran yang sering bergerak liar tadi. Caranya dengan sadar sama segala sesuatu yang kita lakukan sehari-hari. Makan sadar, jalan sadar, <em>ngomong </em>sadar, napas sadar. Dengan begitu, kita jadi lebih bisa menikmati hari-hari baru yang dijalani tanpa sering terjebak dalam memori. (AA)</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://enlightmind.com/bisa-bikin-saya-gak-inget-dia-lagi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MOTIVASI SERTA PENDIDIKAN SEKS &#8211; CHILDREN CAKUNG &#038; CIAWI COMMUNITY</title>
		<link>https://enlightmind.com/motivasi-serta-pendidikan-seks-children-cakung-ciawi-community/</link>
					<comments>https://enlightmind.com/motivasi-serta-pendidikan-seks-children-cakung-ciawi-community/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[enlightmind]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2016 05:48:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://enlightmind.com/?p=1792</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Alvieni Angelica Children Cakung Community merupakan komunitas belajar bagi anak-anak yang tinggal di daerah Cakung dan Ciawi dan diprakarasi oleh Ibu Debby Waitimu. Kali ini, beliau mengajak serta tim Enlightmind untuk membantu menyelenggarakan workshop motivasi dan pendidikan seks bagi anak-anak yang mulai memasuki masa remaja. Dalam workshop motivasi, anak-anak yang berjumlah kurang lebih 30 [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh: Alvieni Angelica</strong></p>


<p>Children Cakung Community merupakan komunitas belajar bagi anak-anak yang tinggal di daerah Cakung dan Ciawi dan diprakarasi oleh Ibu Debby Waitimu. Kali ini, beliau mengajak serta tim Enlightmind untuk membantu menyelenggarakan workshop motivasi dan pendidikan seks bagi anak-anak yang mulai memasuki masa remaja.</p>
<p>Dalam workshop motivasi, anak-anak yang berjumlah kurang lebih 30 orang diajak untuk bercerita tentang apa yang menjadi hobi, impian dan harapan mereka. Melalui permainan dan kegiatan kelompok bersama, mereka diajak untuk melihat keluar dari keseharian aktivitas belajar di sekolah yang cenderung monoton. Tidak mudah mengajak anak-anak yang terbiasa dengan pendidikan text book mengetahui keinginan unik mereka, namun akhirnya dengan menggunakan media majalah-majalah bekas dan koran, mereka berhasil merangkai mimpi dan harapan mereka menjadi karya unik di selembar kertas. Di sini mereka juga belajar untuk mempresentasikan mimpi mereka di hadapan teman-temannya sehingga mereka pun belajar mengasah kepercayaan diri mereka untuk tampil sebagai diri sendiri dengan segala keunikannya.</p>
<p>Selain motivasi, anak-anak pun diajak serta untuk mengikuti sesi selanjutnya yaitu sharing tentang pendidikan seks dan seksualitas. Melalui sesi ini mereka diajak untuk melihat fenomena seks dan seksualitas sebagai bagian dari ilmu pengetahuan yang sangat penting untuk mereka ketahui dan kuasai. Walaupun budaya tabu dan malu di masyarakat Indonesia masih sangat terasa dalam kelompok tersebut namun tim Enlightmind mencoba menyajikannya dalam kemasan interaktif seperti pemutaran film dan aktivitas menggambar serta tanya jawab. Di akhir sesi diselipkan pula pengetahuan mengenai kekerasan dan pelecehan seksual sebagai pengetahuan yang juga penting untuk mereka ketahui.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://enlightmind.com/motivasi-serta-pendidikan-seks-children-cakung-ciawi-community/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ASRAMA REMAJA GEMBALA BAIK</title>
		<link>https://enlightmind.com/asrama-remaja-gembala-baik/</link>
					<comments>https://enlightmind.com/asrama-remaja-gembala-baik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[enlightmind]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2016 05:46:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://enlightmind.com/?p=1789</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Alvieni Angelica Lebih kurang dua kali dalam sebulan mulai tahun 2015 lalu, tim Enlightmind menyelenggarakan kegiatan support group rutin bersama para remaja di asrama putri Gembala Baik, Jakarta. Acara yang diikuti oleh para penghuni asrama setempat berdurasi selama 1.5 jam dan mengusung rangkaian topik yang spesifik dirancang seputar dunia remaja. Sebut saja tema tentang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh: Alvieni Angelica</strong></p>


<p>Lebih kurang dua kali dalam sebulan mulai tahun 2015 lalu, tim Enlightmind menyelenggarakan kegiatan support group rutin bersama para remaja di asrama putri Gembala Baik, Jakarta. Acara yang diikuti oleh para penghuni asrama setempat berdurasi selama 1.5 jam dan mengusung rangkaian topik yang spesifik dirancang seputar dunia remaja. Sebut saja tema tentang “Mengenal Aku” sebagai intro dari pentingnya untuk mengenal diri sendiri; lalu tema hit seputar dunia cowok yang seringkali menjadi sumber ketidakpahaman besar para remaja wanita; selanjutnya disambung lagi dengan topik “Kembali Mencinta (Mengenal Relasi Sehat)” mengenai relasi pertemanan dan pacaran yang sehat. </p>
<p>Topik-topik ini tidak sekedar merupakan aspirasi dari tim Enlightmind, namun lahir dari latar belakang pengalaman para remaja, kehidupan keluarga dan pertemanan serta berbagai pertanyaan seputar kehidupan yang selama ini tidak bisa mereka dapatkan jawabannya dan bingung kepada siapa mereka harus bertanya. Di ajang ini pula, support group ini menjadi ajang curhat yang menimbulkan gelak tawa atau memancing emosi bersama para peserta. Bukan hanya berbincang, seperti halnya kegiatan lainnya, tim Enlightmind senantiasa mengajak para peserta untuk bekerja dengan tubuh mereka atas dasar satu kesatuan hakiki body-mind-spirit.</p>
<p>Masih akan ada topik-topik lain yang diusung dalam acara bersama remaja asrama ini untuk ke depannya, termasuk yang akan diselenggarakan pada waktu dekat yaitu mengenai cara merawat tubuh dan bagaimana tampil cantik dalam dandanan alami remaja. Nantikanlah ulasan berita berikutnya <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://enlightmind.com/asrama-remaja-gembala-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>CARE FOR CAREGIVER KOMNAS PEREMPUAN</title>
		<link>https://enlightmind.com/care-for-caregiver-komnas-perempuan/</link>
					<comments>https://enlightmind.com/care-for-caregiver-komnas-perempuan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[enlightmind]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2016 05:39:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://enlightmind.com/?p=1783</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Alvieni Angelica Tahun 2015 lalu, tim Enlightmind membantu memfasilitasi pelatihan care for caregiver bagi para konselor muda yang sehari-hari bertugas membantu masyarakat yang membutuhkan konseling di Komnas Perempuan. Pelatihan ini dimaksudkan untuk mengatasi burn out yang sangat umum dialami oleh para konselor. Secara spesifik, istilah burn out yang diperkenelakan tahun 1974 oleh Freudenberger merupakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh: Alvieni Angelica</strong></p>


<p style="text-align: justify;">Tahun 2015 lalu, tim Enlightmind membantu memfasilitasi pelatihan care for caregiver bagi para konselor muda yang sehari-hari bertugas membantu masyarakat yang membutuhkan konseling di Komnas Perempuan. Pelatihan ini dimaksudkan untuk mengatasi burn out yang sangat umum dialami oleh para konselor. Secara spesifik, istilah burn out yang diperkenelakan tahun 1974 oleh Freudenberger merupakan kondisi dimana seseorang merasakan perasaan lelah ekstrim akibat tuntutan yang terlalu membebankan tenaga dan kemampuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelatihan ini berlangsung selama 3 hari di Pulau Tidung dan meliputi rangkaian aktivitas yang menjelaskan pengetahuan mengenai body-mind-spirit saat menghadapi burn out; enneagram yang mengajak peserta untuk lebih mengenal diri dan orang-orang di sekitranya serta membantu mereka memahami bagaimana uniknya setiap pribadi berpikir dan bertindak; selain itu juga aktivitas gerak tubuh yang merupakan pembekalan bagi para peserta untuk kelak dapat saling membantu sesama konselor yang lelah dalam menjalankan tugas sehari-hari. Aktivitas gerak tubuh yang dimaksud meliputi beberapa teknik Capacitar seperti drum massage, the holds, pain drain, finger holds, head-shoulder-neck release, healing dance, pal dan gum, tai chi dan masih banyak lagi.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://enlightmind.com/care-for-caregiver-komnas-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 0/188 objects using memcache
Page Caching using disk: enhanced 
Database Caching using memcache (Request-wide modification query)

Served from: enlightmind.com @ 2026-08-26 21:48:47 by W3 Total Cache
-->